Menjaga Kemurnian Ibadah Haji Dengan Akhlakul Karimah

  • 15 Mei 2026 11:08 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID Jakarta - Ibadah haji merupakan puncak perjalanan spiritual yang seharusnya melahirkan perubahan perilaku yang lebih mulia bagi setiap pelakunya. Namun, tantangan nyata sering muncul ketika kesalehan ritual di tanah suci tidak selaras dengan perilaku sosial dalam kehidupan sehari-hari. Fenomena ini menjadi perhatian serius bagi banyak kalangan, terutama mengenai bagaimana menjaga lisan dan sikap di tengah ikatan persaudaraan yang seharusnya kokoh.

Kyai Makmur tokoh agama dan guru mengaji di wilayah Ciawi, Bogor, memberikan pandangan mendalam mengenai pentingnya menjaga kerukunan antar saudara. Menurut beliau, ibadah haji yang mabrur tandanya adalah adanya perbaikan akhlak setelah pulang, bukan justru tetap memelihara sifat adu domba. Sifat namimah atau mengadu domba adalah racun yang dapat menghanguskan pahala amal ibadah yang telah dibangun dengan susah payah selama ini.

Dalam menghadapi saudara yang gemar menyebar fitnah namun sulit mengakui kesalahan, Kyai Makmur menyarankan pentingnya mengutamakan kesabaran dibandingkan emosi. Memang sangat menyakitkan ketika upaya klarifikasi dibalas dengan kemarahan atau penyangkalan, namun itulah ujian bagi kedewasaan spiritual kita. Beliau menekankan bahwa kesombongan untuk tidak mengakui kesalahan justru dapat menjadi penghalang bagi keberkahan ibadah haji yang sedang dijalankan seseorang.

Lantas, bagaimana sebaiknya kita bersikap menghadapi situasi tersebut? Pilihan untuk diam yang berkelas sering kali menjadi solusi terbaik untuk menghindari pertikaian yang lebih besar dan memalukan. Diam bukan berarti kalah atau membenarkan perilaku tersebut, melainkan cara kita menjaga martabat diri agar tidak terjebak dalam lingkaran kemarahan yang sama jahatnya dengan pelaku adu domba itu sendiri.

Selain diam, melakukan pembatasan interaksi yang sehat juga sangat diperbolehkan demi menjaga kesehatan mental dan ketenangan batin. Islam memang mewajibkan silaturahmi, namun tidak mengharuskan kita untuk terus-menerus membiarkan diri disakiti secara lisan oleh orang lain. Dengan menjaga jarak, kita sebenarnya sedang memberikan ruang bagi diri sendiri dan orang tersebut untuk saling berefleksi atas tindakan yang telah dilakukan.

Langkah terakhir yang paling mulia adalah dengan menyerahkan segala urusan tersebut kepada Allah melalui doa-doa yang tulus di setiap sujud. Mendoakan saudara agar mendapatkan hidayah dan kelembutan hati sebelum menjalani ibadah haji berikutnya adalah bentuk "perlawanan" yang paling elegan. Kita tidak perlu memaksa orang lain untuk mengaku, karena Allah Maha Melihat dan Maha Adil dalam menilai niat setiap hamba-Nya.

Sebagai penutup, artikel ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa surga tidak hanya dicapai melalui tawaf dan sa’i, tetapi juga melalui hati yang bersih. Mari kita menjaga persaudaraan dengan lisan yang jujur dan perilaku yang damai, agar ibadah yang kita jalankan benar-benar menjadi berkah. Semoga setiap langkah ibadah kita membawa perubahan sosial yang positif, dimulai dari lingkaran terkecil yaitu keluarga sendiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....