ADPIKI, Hadir Perkuat Peran Dosen dan Peneliti Ilmu Komunikasi di Indonesia

  • 07 Mei 2026 15:37 WIB
  •  Jakarta
RRI.CO.ID, JAKARTA - Pengurus Asosiasi Dosen dan Peneliti Ilmu Komunikasi Indonesia (ADPIKI) periode 2026-2031, secara resmi terbentuk dan dilantik, di Gedung IPB International Convention Center (ICC) Bogor. Kamis, 07 Mei 2026.

Ketua Umum ADPIKI Dr. Heri Budianto, M.Si. mengatakan pembentukan ADPIKI merupakan langkah konsolidatif untuk memperkuat posisi dosen dan peneliti ilmu komunikasi sebagai komunitas epistemik yang solid dalam mendukung transformasi pendidikan tinggi, riset, dan inovasi nasional.

"Saat ini kan belum ada wadah nasional yang secara khusus merepresentasikan dosen dan peneliti ilmu komunikasi dalam percaturan kebijakan pendidikan tinggi dan riset nasional. Untuk itu kami di ADPIKI ini hadir untuk membangun representasi kolektif para dosen dan peneliti ilmu komunikasi, memperkuat legitimasi profesi, serta mengintegrasikan jejaring riset nasional guna meningkatkan daya saing publikasi, inovasi, dan hilirisasi keilmuan komunikasi,” ujar Heri Budianto.

Pengurus ADPIKI Periode 2026-2031. Foto:(RRI/Aris)

Lebih lanjut Heri menjelaskan, bahwa keberadaan ADPIKI diharapkan mampu mendorong peningkatan kualitas pengajaran dan penelitian ilmu komunikasi yang inovatif, kolaboratif, dan relevan dengan perkembangan teknologi digital dan AI. Selain itu, ADPIKI juga diharapkan menjadi ruang sinergi antara akademisi, pemerintah, industri, dan praktisi komunikasi dalam memberikan solusi terhadap berbagai persoalan bangsa, termasuk penguatan literasi publik, tata kelola informasi nasional, demokrasi digital, dan pengembangan industri kreatif.

"Tentu kami ingin ADPIKI ini menjadi wadah yang dapat menyatukan gagasan, memperkuat kolaborasi, dan menghadirkan kontribusi nyata ilmu komunikasi bagi masyarakat, bangsa, dan dunia internasional,” harapnya.

Masih dalam kesempatan yang sama Ketua Dewan Pertimbangan ADPIKI Prof. Dr. Antar Venus, M.A menambahkan, bahwa perkembangan era digital dan AI telah menciptakan fenomena banjir informasi yang memunculkan tantangan baru bagi masyarakat, mulai dari misinformasi, disinformasi, hingga infodemi. Menurutnya, ilmu komunikasi memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan penyebaran informasi yang akurat, berbasis ilmu pengetahuan, serta mampu membangun masyarakat yang kritis dan beretika di ruang digital.

“Di era digital dan AI, komunikasi bukan lagi sekadar proses penyampaian pesan, tetapi menjadi arena pembentukan realitas sosial," ungkapnya.

Oleh karena itu lanjutnya, ilmu komunikasi harus hadir untuk memastikan informasi yang beredar tetap faktual, etis, dan mencerdaskan masyarakat.
Untuk itu Prof. Dr. Antar Venus juga menilai pendekatan komunikologis diperlukan untuk menghadapi dominasi algoritma dan arus informasi digital yang berpotensi memengaruhi cara berpikir dan pengambilan keputusan publik.

"Komunikasi di era digital bersifat semakin egaliter, partisipatif, personal, dan terhubung secara interaktif sehingga membutuhkan fleksibilitas tindakan komunikasi dan penguatan literasi digital masyarakat. Untuk itu saya menekankan pentingnya komunikasi sains yang dibarengi kemampuan berpikir kritis, verifikasi informasi, penguatan etika AI, perlindungan data pribadi, serta pengendalian konsumsi informasi digital agar masyarakat tidak terjebak dalam fenomena “information overload” dan kelelahan digital," jelasnya.

Kegiatan Simposium Nasional ADPIKI 2026 di ICC Bogor tersebut selain diikuti para praktisi, peneliti, organisasi profesi komunikasi nasional dan para akademisi dari berbagai kampus di Indonesia, acara ini juga dihadiri mitra internasional dari University of British Columbia (UBC), Kanada.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Dr. Arif Satria sebagai keynote speaker di kegiatan tersebut dengan tema “Peran dan Tanggung Jawab Ilmu Komunikasi: Sinergi dan Hilirisasi Riset Kini dan Masa Depan” menyampaikan penilaian, bahwa perkembangan teknologi digital telah mengubah secara fundamental lanskap komunikasi publik, di mana media arus utama tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi karena setiap individu kini dapat menjadi produsen sekaligus penyebar berita melalui platform digital.

“Hari ini semua orang bisa menjadi sumber berita dan algoritma memiliki pengaruh besar dalam menentukan apa yang dilihat dan dipercaya publik. Akibatnya, komunikasi sering kali tidak lagi berorientasi pada substansi, tetapi mengejar viralitas,” kata Prof. Arif Satria.

Mantan Rektor IPB University itu juga mengatakan komunikasi pada era digital juga tidak lagi sepenuhnya netral karena digunakan untuk membentuk opini dan membangun trust atau kepercayaan publik terhadap individu maupun institusi. Karena itu, tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana membangun kredibilitas di tengah derasnya arus informasi dan persaingan narasi di ruang digital.

"Menurut saya saat ini penguatan silaturahmi dan jejaring sosial yang sehat menjadi penting untuk menjaga kualitas komunikasi publik dan memperkuat kepercayaan masyarakat. Kadi komunikasi pada akhirnya bukan hanya soal teknologi, tetapi bagaimana membangun relasi sosial dan menghadirkan kredibilitas yang dipercaya masyarakat,” jelasnya.




google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....