HI-FIVE, Game Edukasi HIV Inovatif
- 26 Apr 2026 01:44 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Upaya edukasi HIV/AIDS kini hadir dengan pendekatan yang lebih segar, kreatif, dan membumi. Yayasan Masyarakat Peduli Anak Indonesia (YMPAI) bersama Universitas Indonesia menghadirkan inovasi edukasi kesehatan melalui media permainan interaktif bernama HI-FIVE, sebuah langkah baru untuk menyampaikan pengetahuan HIV/AIDS secara lebih menarik dan mudah dipahami masyarakat.
Kolaborasi ini menjadi bagian dari komitmen YMPAI dan Universitas Indonesia dalam mendorong model edukasi kesehatan yang tidak hanya informatif, tetapi juga menyenangkan. Melalui pendekatan berbasis permainan, pesan kesehatan yang selama ini kerap dianggap berat diharapkan dapat diterima lebih luas, terutama oleh generasi muda dan kelompok masyarakat akar rumput.
Sejak 2024, YMPAI menjadi mitra aktif dalam Mata Kuliah Kolaborasi Kesehatan Universitas Indonesia. Program ini mempertemukan mahasiswa dari lima fakultas di bawah Fakultas Rumpun Ilmu Kesehatan UI, yakni Fakultas Kedokteran, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keperawatan, dan Fakultas Farmasi. Kolaborasi lintas disiplin ini dirancang untuk melahirkan solusi konkret atas berbagai persoalan kesehatan yang dihadapi masyarakat, termasuk meningkatnya kasus HIV/AIDS.

Di tengah masih terbatasnya pemerataan edukasi HIV/AIDS, YMPAI juga terus memperkuat peran masyarakat melalui Program Kader Pendidik dan Pendamping Masyarakat. Program yang telah berjalan sejak 2023 ini menyasar tokoh masyarakat dan tokoh agama di Kota Depok sebagai garda terdepan penyampai informasi kesehatan yang tepat, berkelanjutan, dan mudah diterima warga. Program ini turut mendapat dukungan hibah dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Dari sinergi tersebut lahirlah HI-FIVE, media pembelajaran berbasis games-based learning yang dikembangkan mahasiswa UI bersama YMPAI. Permainan ini mengadaptasi konsep ular tangga dengan tampilan interaktif dan materi edukatif seputar HIV/AIDS. Di dalamnya, peserta diajak mengenali mitos dan fakta, menjawab kuis, serta memahami informasi dasar HIV/AIDS dalam suasana yang ringan namun tetap bermakna.
Pendekatan ini dinilai efektif karena mampu mengubah proses belajar menjadi lebih partisipatif. Edukasi tidak lagi berlangsung satu arah, melainkan menjadi ruang interaksi yang mendorong peserta aktif berpikir, berdiskusi, dan memahami isu HIV/AIDS tanpa rasa canggung. Model seperti ini menjadi penting, terutama untuk menjangkau kelompok muda yang membutuhkan medium belajar yang lebih relevan dengan keseharian mereka.
Dalam sesi uji coba, Direktur YMPAI Julie Rostina dan Drg. Gita Sjarkawi hadir langsung bersama tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk menilai efektivitas media tersebut. Respons yang muncul pun sangat positif. Sugeng Aminudin dari Majelis Ulama Indonesia menilai permainan ini sangat tepat untuk menjadi media edukasi ke depan karena mampu menyampaikan pesan penting dengan cara yang sederhana dan mudah diterima.
Pandangan serupa disampaikan Lilis, kader PKK Sukmajaya, yang menilai HI-FIVE memiliki daya tarik kuat bagi generasi muda. Menurutnya, pendekatan kreatif seperti ini dapat menjadi jembatan penting dalam menyampaikan isu kesehatan yang sering kali dianggap sensitif. Sementara itu, Julie Rostina berharap kolaborasi ini dapat terus berkembang dan memperluas jangkauan pemanfaatan HI-FIVE ke berbagai wilayah sebagai media edukasi HIV/AIDS yang inklusif, efektif, dan berdampak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....