Pendekatan Kreatif Membuka Ruang Aman Kesehatan Mental Remaja
- 26 Apr 2026 00:44 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Masa remaja dikenal sebagai fase yang penuh perubahan dan dinamika, baik secara fisik, psikologis, maupun sosial. Namun, tidak semua remaja mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut secara optimal. Ketika proses adaptasi terganggu, dampaknya kerap dirasakan pada kesehatan mental. Data Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS 2022) menunjukkan bahwa sekitar sepertiga remaja di Indonesia mengalami gangguan mental dalam satu tahun terakhir. Fakta ini menjadi pengingat bahwa isu kesehatan mental remaja perlu mendapat perhatian serius dan pendekatan yang lebih relevan.
Menjawab tantangan tersebut, Yayasan Masyarakat Peduli Anak Indonesia menggandeng Universitas Indonesia melalui Rumpun Ilmu Kesehatan sejak 2024. Kolaborasi ini melibatkan lima fakultas dalam program pembelajaran lintas profesi berbasis masalah di masyarakat. Direktur YMPAI, Julie Rostina, menegaskan bahwa fokus utama tahun ini adalah menghadirkan edukasi kesehatan mental yang lebih segar dan mudah diterima remaja. “Kami ingin menghadirkan terobosan edukasi kesehatan mental yang menarik, agar isu ini tidak lagi dianggap tabu atau menakutkan bagi remaja,” ujarnya.
Baca Juga : YMPAI: Menguatkan Keluarga, Membangun Generasi Cerdas
Inovasi tersebut diwujudkan melalui permainan edukatif HOPE (Healing on Positive Energy) yang dikembangkan oleh mahasiswa lintas fakultas. Terinspirasi dari konsep permainan klasik, HOPE dirancang sebagai media interaktif yang mengajak pemain mengeksplorasi emosi, berbagi pengalaman, dan memahami kesehatan mental secara reflektif. Dengan kombinasi kartu tantangan, fakta menarik, dan pertanyaan mendalam, permainan ini menghadirkan pengalaman belajar yang ringan, komunikatif, namun tetap bermakna.
Uji coba permainan yang digelar pada 23 April 2026 di kantor YMPAI memperlihatkan hasil yang menggembirakan. Didampingi oleh psikolog Zia Martinis dan game designer Grace Yulia, para remaja yang terlibat mulai menunjukkan keterbukaan dalam berbagi cerita dan emosi. “Games ini menghibur dan interaktif, sehingga bisa mencairkan kebekuan relasi antar remaja. Kartu-kartunya juga memberi ruang bagi mereka untuk mengekspresikan perasaan dengan lebih nyaman,” ungkap Zia Martinis, sembari memberikan masukan agar bahasa dalam permainan semakin dekat dengan keseharian remaja.
| Baca juga: Kaum Muda Sebarkan Virus Cinta Lingkungan |

Bagi para peserta, HOPE tidak hanya menjadi permainan, tetapi juga pengalaman yang mempererat hubungan sosial dan keberanian untuk berbicara. Pendekatan ini menegaskan bahwa edukasi kesehatan mental tidak harus kaku dan formal. Dengan cara yang menyenangkan dan kontekstual, pesan justru lebih mudah diterima. Ke depan, HOPE diharapkan dapat diperluas penggunaannya di sekolah dan komunitas, menjadi sarana bagi remaja untuk memahami diri, membangun koneksi yang sehat, serta menemukan keberanian untuk menjadi diri sendiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....