IAAI Tanam 100 Bibit Bambu di Candi Morangan
- 17 Apr 2026 17:24 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) menggelar aksi nyata untuk menjaga kelestarian lingkungan di sekitar situs bersejarah nasional. Kegiatan bakti sosial ini dilakukan dengan menanam seratus bibit bambu di kawasan Cagar Budaya Candi Morangan, Sleman.
Langkah ini diambil sebagai bagian dari rangkaian peringatan hari jadi ke-50 organisasi profesi arkeologi tersebut. Kolaborasi ini melibatkan berbagai elemen masyarakat mulai dari akademisi, komunitas peduli budaya, hingga pemerintah desa setempat.
Narahubung panitia, Danang menyampaikan bahwa pemilihan bibit bambu memiliki fungsi ekologis yang sangat penting bagi perlindungan struktur bangunan candi. Bambu dikenal mampu menahan erosi tanah dan menjaga ketersediaan air tanah di area sekitar tanggul sungai.
"Penanaman 100 bibit bambu ini adalah upaya kami memperkuat daya dukung lingkungan di kawasan Candi Morangan," ujarnya, Jumat, 17 April 2026. Sinergi antara pelestarian alam dan cagar budaya menjadi fokus utama dalam agenda yang berlangsung di Sleman tersebut.
Pihak panitia juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk ikut berpartisipasi aktif dalam aksi hijau yang akan dilaksanakan pada akhir pekan ini. Penanaman ini bukan hanya sekadar seremoni, melainkan sebuah gerakan edukasi mengenai pentingnya menjaga harmoni antara situs kuno dengan ekosistem sekitarnya.
"Kami ingin menumbuhkan kesadaran bahwa melestarikan lingkungan berarti juga menjaga napas cagar budaya kita tetap panjang," tambahnya. Melalui kegiatan ini, diharapkan Candi Morangan yang terletak di tepian Kali Gendol dapat terlindungi dari ancaman kerusakan alam.
Kegiatan yang dijadwalkan pada Minggu, 19 April 2026 pagi ini akan dimulai dengan titik kumpul di Kantor Kalurahan Sindumartani sebelum menuju lokasi penanaman. Peserta yang terlibat terdiri dari anggota IAAI Pusat, Komda DIY-Jateng, hingga mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa FIB UGM.
Selain menanam, para peserta akan mendapatkan informasi mengenai nilai sejarah candi tersebut dari para ahli arkeologi yang hadir. Kegiatan ini bersifat terbuka bagi siapa saja yang ingin berkontribusi langsung dalam upaya penyelamatan situs sejarah di Yogyakarta.
Kerja sama lintas sektor ini menunjukkan bahwa penyelamatan warisan budaya merupakan tanggung jawab kolektif yang harus dipikul bersama secara berkelanjutan. Balai Pelestarian Kebudayaan DIY bersama Yayasan Hutan Biru turut mengawasi agar jenis tanaman yang dipilih sesuai dengan karakteristik lahan. Dengan adanya sabuk hijau dari pohon bambu, diharapkan risiko longsor di sekitar tanggul Kali Gendol dapat berkurang secara signifikan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....