PepsiCo dan National Geographic Danai Riset Pertanian Global

  • 11 Apr 2026 15:00 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - PepsiCo bersama National Geographic Society mengumumkan lima pendanaan baru untuk riset pertanian global guna mempercepat penerapan praktik agrikultur berkelanjutan.

Program ini mencakup berbagai inovasi, mulai dari revitalisasi padang rumput hingga pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk menerjemahkan analisis genomik tanah menjadi panduan praktis bagi petani.

Riset tersebut menargetkan tanaman pangan utama di berbagai pusat produksi dunia yang terdampak tekanan perubahan iklim. Para peneliti dipilih dari ratusan proposal yang berasal dari 140 negara dan tergabung dalam komunitas National Geographic Explorers.

Salah satu inovasi yang menjadi sorotan datang dari Indonesia melalui proyek LIFE: Inovasi Tanah untuk Pangan dan Pemberdayaan yang digagas peneliti Al Greeny S. Dewayanti.

Proyek ini mengembangkan sistem pertanian tumpang sari antara jagung dan sacha inchi tanaman dengan kandungan nutrisi tinggi, dengan pendekatan berbasis teknologi, termasuk analisis DNA tanah dan aplikasi AI.

“Tujuan kami adalah membuat sains mudah diakses sehingga petani dapat memahami apa yang terjadi di dalam tanah dan mengambil tindakan yang meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan,” ujar Al Greeny melalui keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu, 11 April 2026.

Melalui metode “metabarcoding DNA”, sampel tanah dianalisis untuk mengidentifikasi mikroorganisme yang berperan dalam kesehatan lahan. Data tersebut kemudian diolah menjadi aplikasi berbasis AI yang memberikan rekomendasi praktis, seperti kebutuhan kompos atau kesiapan lahan untuk ditanami.

Pendekatan ini diharapkan mampu menjawab persoalan malnutrisi sekaligus memulihkan lahan terdegradasi. Bahkan, hasil panen dari sistem multi-crops tersebut diproyeksikan dapat memenuhi hingga 80 persen kebutuhan pangan keluarga di kawasan Labuan Bajo.

Selain inovasi teknologi, proyek ini juga menonjolkan pemberdayaan perempuan. Sebanyak lima kelompok dengan 50 perempuan pionir terlibat dalam pengelolaan koperasi serta pengolahan sacha inchi menjadi produk bernilai tambah seperti minyak.

Program riset ini merupakan bagian dari inisiatif Food for Tomorrow, kolaborasi antara PepsiCo dan National Geographic Society yang diluncurkan pada 2025 untuk mendorong transformasi sistem pangan global melalui pertanian regeneratif.

Chief Science and Innovation Officer National Geographic Society, Ian Miller, mengatakan bahwa pertanian regeneratif menjadi fokus baru yang penting.

“Pertanian regeneratif sangat terkait dengan upaya melindungi ekosistem, mengurangi jejak karbon, serta menjaga keanekaragaman hayati,” ujarnya.

Sementara itu, Executive Vice President dan Chief Sustainability Officer PepsiCo, Jim Andrew, menekankan pentingnya dukungan terhadap petani di tengah tekanan perubahan iklim.

“Petani hanya memiliki satu kesempatan setiap musim untuk berhasil. Praktik berbasis sains sangat penting untuk membangun sistem pangan yang lebih tangguh sekaligus meningkatkan taraf hidup mereka,” katanya.

PepsiCo sendiri menargetkan penerapan praktik pertanian regeneratif di lahan seluas 10 juta hektare secara global pada 2030.

Selama dua tahun ke depan, para peneliti akan melakukan uji coba langsung di lapangan untuk mengembangkan solusi yang dapat diterapkan secara luas, mencakup berbagai komoditas seperti gandum, jagung, kentang, kedelai, dan kopi.

Melalui kolaborasi ini, para ilmuwan tidak hanya meneliti, tetapi juga mendokumentasikan dan menyebarluaskan praktik terbaik melalui berbagai media, termasuk pameran foto, kampanye digital, hingga karya jurnalistik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....