Keutamaan Menyambung Silaturahmi Sejati

  • 05 Apr 2026 05:43 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Di antara nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada hamba-Nya adalah keharmonisan dalam keluarga. Ikatan silaturahmi yang kuat menjadi sumber ketenangan, keberkahan, dan kekuatan sosial. Sebaliknya, ketika hubungan saudara kandung merenggang, bahkan saling menjauh karena urusan dunia seperti warisan atau status sosial, hal itu menjadi ujian yang berat dan menyisakan luka batin yang mendalam.

Islam menempatkan silaturahmi sebagai amalan agung yang tidak sekadar bersifat sosial, tetapi juga bernilai ibadah. Orang yang mampu menjaga hubungan keluarga, meskipun dalam kondisi sulit, menunjukkan kematangan iman dan kelapangan hati. Bahkan, keutamaan ini tidak diukur dari seberapa sering kita dibalas kebaikannya, melainkan dari kesungguhan menjaga hubungan meski diabaikan.

Dalam hadits sahih riwayat Imam Bukhari, Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنِ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

“Bukanlah orang yang menyambung (silaturahmi) itu yang membalas kebaikan, tetapi orang yang menyambung adalah yang ketika diputuskan hubungan, ia tetap menyambungnya.” (HR. Bukhari)

Hadits ini menegaskan bahwa ukuran silaturahmi sejati adalah ketika seseorang tetap berbuat baik kepada kerabat yang menjauhinya. Inilah akhlak tinggi yang tidak mudah dilakukan, namun sangat dicintai oleh Allah. Orang seperti ini bukan hanya menjaga hubungan, tetapi juga menghidupkan nilai rahmat dalam keluarga.

Para ulama salaf jumhur menekankan bahwa menyambung silaturahmi hukumnya wajib, sementara memutuskannya termasuk dosa besar. Imam An-Nawawi رحمه الله menjelaskan bahwa silaturahmi mencakup segala bentuk kebaikan kepada kerabat, baik dengan harta, kunjungan, maupun perhatian. Bahkan sekadar menyapa dengan baik sudah termasuk bentuk silaturahmi yang dianjurkan.

Ibnu Hajar Al-Asqalani رحمه الله juga menegaskan bahwa keutamaan terbesar dalam silaturahmi adalah ketika dilakukan kepada kerabat yang bersikap buruk. Hal ini menunjukkan keikhlasan dan kekuatan iman seseorang. Karena itu, para salaf dahulu berlomba-lomba menjaga hubungan keluarga, meski harus menahan ego dan perasaan.

Akhirnya, menyambung silaturahmi bukan sekadar tradisi, melainkan jalan menuju ridha Allah dan keberkahan hidup. Siapa yang mampu menjaga hubungan di tengah ujian, maka dialah orang yang hebat di sisi Allah. Semoga kita termasuk golongan yang terus berusaha menguatkan tali persaudaraan, meski dalam keadaan sulit.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....