Menguak Tabir Kelam Kematian Fientje de Feniks

  • 30 Mar 2026 19:02 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID - Jakarta - Pintu air Kali Baroe di Tanah Abang mendadak mencekam saat sesosok mayat perempuan ditemukan tersangkut di antara derasnya aliran air pada 17 Mei 1912. Awalnya warga sekitar mengira sosok tersebut adalah warga Tionghoa karena mengenakan kebaya dan kain sarung yang sangat identik dengan gaya berpakaian etnis tersebut pada masanya.

Namun, identitas aslinya terungkap sebagai Fientje de Feniks, seorang perempuan Indo cantik yang tinggal di rumah bordil milik Oemar Ompong di kawasan Paal Merah. Penemuan ini segera menjadi buah bibir di seantero Batavia dan menyisakan tanda tanya besar mengenai siapa dalang di balik aksi keji yang merenggut nyawa primadona tersebut.

"Fientje de Feniks sebenarnya dihabisi oleh seorang pribumi bernama Siloen atas perintah langsung dari Meneer Gramser Brinkman, seorang pria 'Don Juan' yang merupakan anggota Sositet Concordia," ungkap Ade Purnama dari Sahabat Museum dari rilis yang dibagikan, Senin 30 Maret 2026.

Brinkman diketahui merasa sangat cemburu karena ia ingin memiliki Fientje seutuhnya, sementara Fientje masih kerap bertemu dengan pria-pria lain di rumah bordil. Hasrat untuk mendominasi itulah yang kemudian membutakan mata sang Meneer hingga ia tega menyewa jasa pembunuh bayaran untuk mengakhiri hidup sang kekasih. Kasus ini menjadi salah satu skandal paling besar yang menyeret nama pejabat tinggi Belanda di tanah jajahan pada awal abad ke-20.

Ade Purnama juga menambahkan, "Siloen sang eksekutor justru menyatakan penyesalan yang sangat aneh, karena ia menyesal bukan karena aksi kejamnya, melainkan karena Meneer Brinkman lebih dulu bunuh diri di dalam bui."

Kematian Brinkman di penjara membuat Siloen merasa rugi besar karena upah total sebesar 5.000 gulden yang dijanjikan belum sepenuhnya ia terima. Padahal, Siloen sudah telanjur mengadakan acara syukuran atau selamatan bersama rekan-rekannya dengan harapan akan segera mendapatkan uang dalam jumlah yang sangat fantastis itu.

Tragisnya, ia hanya sempat memegang uang muka saja sementara nasibnya berakhir di tangan hukum akibat pengakuan yang ia buat sendiri di hadapan para penyidik.

Kisah tragis yang penuh intrik ini akan diulas secara mendalam dalam kegiatan Plesiran Tempo Doeloe yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 12 April 2026 mendatang. Para peserta tur akan diajak menyusuri jejak-jejak sejarah mulai dari kawasan Senen, melewati bangunan bersejarah asrama mahasiswa, hingga menuju area Kampoeng Bandan yang legendaris.

Perjalanan ini bertujuan untuk mengenalkan sisi lain sejarah Jakarta yang jarang tertulis dalam buku pelajaran sekolah melalui metode berjalan kaki dan naik kereta api. Narasi yang dibangun akan membawa peserta merasakan atmosfer Batavia lama sembari memahami dinamika sosial dan hukum yang berlaku pada era kolonialisme Hindia Belanda.

Seluruh informasi mengenai biaya pendaftaran dan rute perjalanan dapat dipantau melalui kanal komunikasi resmi milik komunitas Sahabat Museum yang rutin mengadakan kegiatan serupa.

Pastikan Anda mengenakan pakaian yang nyaman untuk berjalan kaki karena rute yang ditempuh cukup panjang dan melibatkan banyak interaksi dengan lingkungan sekitar. Mari bergabung untuk melihat langsung bukti-bukti bisu dari peristiwa kriminalitas paling fenomenal yang pernah mengguncang kehidupan masyarakat Jakarta di masa lalu.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....