Cerita Nelayan Cilincing, Saat Hujan Terjadi Pembuangan Limbah

  • 28 Mar 2026 16:23 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA – Nelayan kerang di kawasan Marunda, Jakarta Utara, kembali mengeluhkan pencemaran limbah yang kerap merusak ekosistem tambak mereka. Limbah yang diduga berasal dari aktivitas pabrik di sekitar aliran sungai tersebut mengakibatkan kematian massal pada biota laut, terutama kerang yang sedang dibudidayakan.

Berdasarkan penuturan Uding (54) salah satu nelayan setempat, limbah ini memiliki karakteristik yang sangat mencolok dan merusak. Air sungai seringkali berubah warna menjadi kuning dan berbusa menyerupai air sabun. Tak hanya itu, aroma yang dihasilkan pun sangat menyengat hingga menyebabkan rasa pusing bagi siapa saja yang berada di dekatnya.

"Limbahnya kadang berwarna kuning, kadang seperti sabun. Baunya sangat menyengat sampai bikin pusing," ujar sang nelayan saat ditemui RRI Jakarta, Jumat 27 Maret 2026.

Ironisnya, pembuangan limbah ini disinyalir dilakukan dengan memanfaatkan kondisi alam. Nelayan mencurigai bahwa pihak pabrik sengaja membuang limbah saat terjadi hujan lebat untuk menyamarkan jejak pencemaran.

"Biasanya kalau hujan besar, limbah itu keluar. Entah dari pabrik mana, yang jelas salurannya menuju ke sungai Marunda," tambahnya.

Dampak dari pencemaran ini tidak main-main. Untuk satu unit tambak atau "ternak" berukuran 30 petak persegi, nelayan harus mengeluarkan modal investasi antara Rp10 juta hingga Rp15 juta. Jika limbah menerjang, seluruh isi tambak bisa mati dalam waktu singkat, mengakibatkan kerugian materiil hingga puluhan juta rupiah.

Kejadian ini bukan pertama kalinya terjadi. Nelayan berharap pemerintah dan pihak terkait segera melakukan pengawasan ketat terhadap saluran pembuangan pabrik di sepanjang aliran sungai Marunda agar keberlangsungan hidup dan mata pencaharian nelayan kecil tetap terjaga.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....