Menyambung Silaturahim saat Disakiti
- 26 Mar 2026 09:34 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Dalam kehidupan, tidak semua hubungan berjalan mulus, bahkan dengan kerabat sendiri. Ada kalanya seseorang justru disakiti oleh orang terdekat, baik melalui ucapan maupun perbuatan. Namun Islam datang dengan ajaran yang tinggi, tidak sekadar membalas kebaikan dengan kebaikan, tetapi mengajarkan akhlak yang melampaui itu: tetap menyambung silaturahim meski disakiti.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنِ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا
“Bukanlah orang yang menyambung (silaturahim) itu yang hanya membalas kebaikan, tetapi yang benar-benar menyambung adalah orang yang tetap menyambung ketika hubungan itu diputus.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa ukuran silaturahim sejati bukan pada timbal balik, melainkan pada keteguhan menjaga hubungan di saat orang lain memutuskannya. Inilah derajat tinggi yang hanya mampu diraih oleh orang-orang yang sabar dan mengharap ridha Allah, bukan sekadar kepuasan pribadi.
Dalam Al-Qur’an, Allah juga berfirman:
وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ
“Dan orang-orang yang menghubungkan apa yang diperintahkan Allah untuk dihubungkan dan mereka takut kepada Rabb mereka.” (QS. Ar-Ra’d: 21). Ayat ini menunjukkan bahwa menjaga silaturahim adalah perintah langsung dari Allah dan termasuk ciri orang bertakwa.
Para ulama salaf menekankan pentingnya akhlak ini. Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله berkata, “Menyambung silaturahim bukanlah sekadar membalas kebaikan, tetapi engkau menyambung orang yang memutusmu, memaafkan orang yang menzalimimu, dan berbuat baik kepada orang yang menyakitimu.” Ini adalah puncak akhlak mulia yang diajarkan dalam Islam.
Jumhur ulama juga sepakat bahwa memutus silaturahim termasuk dosa besar, sedangkan menyambungnya adalah kewajiban sesuai kemampuan. Bahkan, Imam An-Nawawi رحمه الله menjelaskan bahwa tetap berbuat baik kepada kerabat yang menyakiti adalah bentuk ihsan yang sangat dianjurkan, selama tidak mengandung mudarat yang lebih besar.
Maka ketika disakiti kerabat, pilihan seorang mukmin bukanlah membalas, tetapi bersabar, memaafkan, dan tetap menjaga hubungan dengan cara yang bijak. Bisa dengan doa, ucapan baik, atau sekadar tidak memutus komunikasi sepenuhnya. Inilah jalan yang berat, namun penuh keberkahan.
Akhirnya, menyambung silaturahim di saat disakiti adalah bukti kekuatan iman dan kelapangan hati. Ia bukan tanda kelemahan, melainkan kemuliaan. Sebab balasan sejati bukan dari manusia, tetapi dari Allah yang Maha Melihat setiap kesabaran dan keikhlasan hamba-Nya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....