Hari Air Sedunia: Realita Pedagang Air Keliling Jakarta

  • 22 Mar 2026 13:57 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA – Di tengah teriknya matahari pesisir Jakarta Utara, sosok Pak Suhendar (50-an) tetap tegap mendorong gerobak kayu berisi puluhan jerigen air. Sudah 15 tahun lamanya, ia menggantungkan hidup sebagai pedagang air bersih keliling, sebuah profesi yang kian langka namun tetap krusial bagi warga di kawasan Marunda.

Setiap harinya, Pak Suhendar harus menguras tenaga ekstra. Sekali jalan, ia mendorong gerobak berisi 20 jerigen air yang total beratnya mencapai sekitar 4 kuintal atau 400 kilogram. Dalam sehari, ia mampu melakukan 4 hingga 5 kali perjalanan bolak-balik.

"Sistemnya kita ambil dari bos, beli segerobak (20 jerigen) harganya Rp12.000. Ukuran satu jerigen itu 20 liter," jelas Pak Suhendar saat ditemui RRI Jakarta di sela aktivitasnya.

Air bersih tersebut ia jual kembali ke pelanggan dengan harga rata-rata Rp6.000 per jerigen. Meski harganya terlihat ekonomis, pendapatan kotor yang ia terima sekitar Rp120.000 hingga Rp150.000 per hari harus dipotong dengan berbagai biaya hidup.

"Dapat segitu belum buat makan, rokok, kopi, sama bayar sewa (tempat tinggal). Istilahnya pas-pasan banget buat bertahan hidup di Jakarta," tambahnya.

Meski sebagian besar area perumahan di Jakarta sudah teraliri air dari PAM, jasa Pak Suhendar tetap diburu. Pelanggan utamanya adalah pedagang kaki lima (PKL), warung pecel lele, dan warga di area terminal yang seringkali tidak memiliki akses air bersih langsung. Selain itu, kondisi air tanah di pesisir Marunda yang cenderung asin membuat kebutuhan akan air tawar untuk minum dan memasak tetap tinggi.

"Pelanggan biasanya warung-warung di pinggir jalan, terminal, atau pelelangan ikan yang airnya masih asin. Kalau perumahan sekarang rata-rata sudah pakai PAM sendiri," ujarnya.

Menghadapi masa depan, Pak Suhendar tidak muluk-muluk. Ia hanya berharap pemerintah dapat menjamin ketersediaan dan kelancaran pasokan air bersih agar usaha kecil seperti miliknya tetap bisa berjalan.

"Harapannya ya supaya pasokan air ini dipertahankan, jangan sampai macet. Namanya kita usaha kecil-kecilan, kalau air lancar, kita juga bisa terus cari rezeki buat sehari-hari," pungkas Suhendar.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....