Mengapa Proklamator Mohammad Hatta Memilih Dimakamkan di Makam Umum?
- 02 Mar 2026 10:24 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta – Proklamator Republik Indonesia Mohammad Hatta memilih dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum atau TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, alih-alih di Taman Makam Pahlawan. Keputusan itu merupakan wasiat pribadi Bung Hatta yang disampaikan jauh sebelum wafatnya pada Jumat, 14 Maret 1980.
Bung Hatta wafat pada usia 77 tahun setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Jenazah Wakil Presiden pertama Republik Indonesia itu dimakamkan sehari setelah wafatnya di TPU Tanah Kusir, tempat rakyat biasa juga dimakamkan.
Laman yayasanhatta.org menulis, wasiat tersebut disampaikan Bung Hatta pada 10 Februari 1975 sebagai bentuk konsistensi atas nilai hidup yang ia perjuangkan. Dalam artikel berjudul
Siaran Publik: Empat Puluh Lima Tahun Kematian Bung Hatta dan Nasib Indonesia itu, Bung Hatta menyatakan tidak ingin memperoleh perlakuan istimewa dalam kematian, sebagaimana ia menolak keistimewaan selama hidupnya.
Testamen Hatta tersebut adalah pernyataan sikap. "Bahkan kematiannya sekalipun, ingin ia jadikan sebagai medium perbaikan nasib rakyat kecil. Sikap yang kini perlu kita semua renungkan sebagai anak bangsa," kata yayasanhatta.org.
Diceritakan juga, bertahun-tahun sebelum kematiannya, Hatta kerap menyinggung “nasib”. Pada umur 17 Tahun, Hatta menulis cerita pendek dengan judul “Nasib Hindania” yang dimuat dalam Majalah Jong Sumatra, No. 1, Tahun Ke-3, Januari 1920.
Cerpen tersebut merupakan personifikasi nasib Indonesia yang ketika itu berada dalam masa kolonialisme. Hatta membuat personifikasi Hindania sebagai seorang perempuan yang ditinggal mati suaminya, seorang Brahmana dari Hindustan.
Hindania kemudian menikah lagi dengan seorang musafir bernama Wollandia dari negeri Magrib. Mula-mula, Hindania mengira Wollandia seorang baik budi. Namun pasca pernikahan, Wollandia ternyata hanya mencintai harta Hindania saja dan menindas anak-anak Hindania.
Diceritakan harta Hindania habis dikirimkan Wollandia ke negerinya sendiri dan kesengsaraan meliputi hari-hari Hindania setelahnya. Cerpen “Nasib Hindania” ini merupakan karya tulis pertama Bung Hatta yang dimuat di Majalah. Garis start yang ia mulai dengan mempertanyakan nasib bangsanya.
Dalam rangka memperingati Haul ke-46 Proklamator dan Wakil Presiden pertama Republik Indonesia, radio RRI Pro1 Jakarta akan menggelar dialog bertajuk Hatta dan Kita. Program ini menghadirkan Halida Hatta, putri bungsu Bung Hatta, sebagai narasumber.
Dialog bertema “Haul ke-46 Bung Hatta: Integritas yang Selalu Terjaga” tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan tahunan yang digelar bersama Yayasan Hatta. Siaran dapat disimak melalui radio 91,2 FM Pro1 RRI Jakarta pada Selasa, 3 Maret 2026, pukul 09.00–10.00 WIB.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....