Horja Adat sayur Matua Bani Adat Simalungun
- 09 Feb 2026 22:18 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Horja Adat Sayur Matoa Bani Adat Simalungun kembali mendapat sorotan nasional dalam acara Apresiasi Budaya Batak yang disiarkan Pro 4 RRI Jakarta, Senin, 9 Februari 2026. Dalam dialog budaya yang dipandu host Dermawan Ismail, nilai-nilai adat Simalungun dikupas mendalam melalui keterangan narasumber Drs. Benjamin Raja Sinaga, MM, Wakil Sekretaris Jenderal Batak Center, yang dihubungi langsung melalui sambungan telepon.
Perbincangan tersebut menjadi ruang refleksi penting tentang bagaimana adat Batak, khususnya Simalungun, tetap hidup dan relevan di tengah arus modernisasi. Drs. Benjamin Raja Sinaga menjelaskan bahwa Horja Adat Sayur Matoa bukan sekadar seremoni, melainkan simbol penghormatan tertinggi kepada tatanan adat, para tetua, serta leluhur dalam struktur sosial masyarakat Simalungun.
Menurutnya, istilah “Sayur Matoa” memiliki makna filosofis yang dalam, yakni menggambarkan kebijaksanaan, kematangan berpikir, dan tanggung jawab adat yang diwariskan lintas generasi. “Ini adalah bentuk pendidikan karakter berbasis budaya yang sudah ada jauh sebelum konsep itu dikenal secara formal,” ujarnya melalui sambungan telepon dari luar Jakarta.
Lebih lanjut, Benjamin menekankan bahwa Horja Adat Sayur Matoa Bani Adat Simalungun menjadi ruang pemersatu masyarakat, bukan hanya bagi internal suku Simalungun, tetapi juga dalam konteks kebhinekaan nasional. Ia menilai adat Batak memiliki kekuatan dialogis yang mampu menjembatani perbedaan, karena menjunjung tinggi musyawarah, penghormatan, dan keseimbangan hubungan sosial.
Dalam konteks Indonesia yang majemuk, nilai-nilai ini dinilai sangat relevan untuk terus dihidupkan dan diperkenalkan kepada generasi muda.
Dalam dialog yang berlangsung hangat bersama Dermawan Ismail, Benjamin juga mengapresiasi peran RRI Pro 4 Jakarta yang konsisten memberi ruang bagi ekspresi budaya daerah. Menurutnya, media publik memiliki tanggung jawab strategis dalam menjaga memori kolektif bangsa, terutama terhadap adat dan tradisi yang berakar kuat di daerah.
“Ketika adat dibicarakan di ruang nasional, itu artinya negara hadir untuk budayanya,” ungkapnya dengan nada optimistis.
Menutup perbincangan, Drs. Benjamin Raja Sinaga berharap Horja Adat Sayur Matoa tidak hanya dipandang sebagai warisan masa lalu, tetapi sebagai pedoman hidup yang adaptif dan inspiratif. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat Batak, khususnya generasi muda Simalungun di perantauan, untuk terus belajar, merawat, dan mempraktikkan nilai adat dalam kehidupan sehari-hari.
Apresiasi budaya yang disiarkan RRI tersebut pun menjadi bukti bahwa adat Batak tetap berdiri tegak—berakar di tanah leluhur, namun berpandangan luas ke masa depan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....