Wayang Kulit Betawi Sebagai Warisan Budaya

  • 05 Feb 2026 15:17 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta – Wayang Kulit Betawi merupakan salah satu kesenian tradisional masyarakat Betawi. Pertunjukan Wayang ini berkembang di sekitar kawasan Jakarta, khususnya Tambun dan Bekasi. Karena penyebarannya di kawasan Tambun, Wayang Betawi ini juga dikenal sebagai Wayang Tambun.

Melalui situs resmi kemendikdasmen.go.id pada Kamil, 5 Februari 2026, dahulu saat tahun 1920-an, pementasan Wayang Kulit Betawi diiringi dengan gamelan bambu yang menghasilkan suara nyaring dan kering khas bambu. 

Kini, pertunjukan Wayang Kulit diiringi dengan gamelan Sunda dan musik yang disebut gamelan ajeng dengan menggunakan bahasa Betawi. Gamelan ajeng terdiri dari terompet, dua buah saron, gedemung, kromong, kecrek, gendang, kempul, dan gong. 

Sejarah Wayang Kulit Betawi bermula dari serangan Pasukan Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Mataram terhadap Belanda di Betawi. Rumah-rumah di Jakarta dijadikan sebagai pos peristirahatan tentara Mataram. Di pos tersebutlah seorang tentara Mataram menceritakan tokoh-tokoh dan peristiwa pewayangan.

Pendapat lain menyebutkan bahwa Wayang Kulit Betawi lahir dari interaksi budaya para pendatang yang berasal dari Jawa. Oleh sebab itu, ada kesamaan antara Wayang Kulit Betawi dengan Wayang Kulit Jawa.

Wayang Kulit Betawi juga memiliki fungsi ritual yang disebut ruwat. Ruwat merupakan upacara penolakan bala untuk keluarga yang memiliki susunan anak yang istimewah, seperti anak tunggal (laki-laki/perempuan), dua anak anak laki-laki/perempuan, anak perempuan tertua dari dua bersaudara (perempuan dan laki-laki), lima orang anak laki-laki/perempuan, serta lima orang anak yang empat diantaranya laki-laki/perempuan. Ada pula kasus anak tunggal dengan titik putih di tengah alis dan bermuka pucat.

Sebagai syarat dalam upacara ruwatan, dalang harus memiliki kemampuan spiritual yang tinggi. Lakon Nurwakala atau menurut istilah setempat disebut lakon “Betara Kala” merupakan pertunjukan khusus yang dibawakan saat upacara ruwatan dengan sesajen yang menjadi pelengkapnya.  (Susanti Ramadhan – Mahasiswa Universitas Ibnu Chaldun Jakarta)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....