Doa Yang Dianjurkan di Malam Nisfu Sya’ban

  • 02 Feb 2026 14:03 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta – Malam Nisfu Sya’ban kembali hadir sebagai penanda waktu evaluasi diri menjelang Ramadan, bukan sekadar tradisi tahunan. Momentum ini dipandang para ulama sebagai ruang muhasabah untuk menimbang kualitas iman, memperbaiki ibadah, dan menata hubungan sosial sebelum memasuki bulan puasa.

Ustazah Lady Eka Rahmawati, Divisi Sosial dan Kemasyarakatan DPP Wazin, sebuah organisasi perempuan alumni Al Azhar Mesir, mengatakan Sya’ban adalah bulan yang kerap terabaikan padahal sarat makna spiritual. “Rasulullah menyukai saat amal diangkat dalam keadaan berpuasa, ini mengajarkan evaluasi diri agar ibadah kita meningkat,” ujar Lady dalam siaran radio kajian Subuh Mutiara Pagi Pro1 RRI Jakarta pada Senin, 2 Februari 2026.

Ustazah Lady Eka  yang juga Ka Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Sekolah Tinggi Islam Al-Mukmin atau IAT STIM Surakarta menjelaskan Surah Al-Hasyr ayat 18 menjadi fondasi evaluasi personal karena memerintahkan orang beriman memperhatikan apa yang disiapkan untuk hari esok. “Muhasabah bukan menunggu kritik orang lain, tetapi kejujuran hati melihat kekurangan diri,” ucapnya menegaskan.

Data akademik dari Universitas Negeri atau Unesca Surabaya mencatat malam Nisfu Sya’ban dipahami sebagai momen refleksi rohani dan peningkatan ibadah. Tradisi membaca Al-Qur’an, doa, dzikir, serta salat malam dinilai sebagai bentuk penguatan spiritual menjelang Ramadan.

Melalui website resminya, Unesca menulis pada tahun 2026, pertengahan bulan Sya’ban 1447 Hijriah diperkirakan jatuh pada Selasa, 3 Februari 2026, sehingga malam Nisfu Sya’ban dimulai sejak Maghrib pada Senin malam, 2 Februari 2026 hingga menjelang Subuh keesokan hari. Penetapan ini berdasarkan kalender Hijriah yang umum digunakan oleh lembaga keagamaan di tanah air serta panduan hisab dan rukyah yang menjadi rujukan umat Muslim.

Makna Malam Nisfu Sya’ban

Secara harfiah, Nisfu Sya’ban berarti tengah bulan Sya’ban. Dalam tradisi Islam, malam ini dipandang sebagai waktu yang istimewa untuk bermunajat kepada Allah SWT, memperbanyak doa, dzikir, serta memperbaiki amalan dan niat. Umat Islam banyak mengisi malam ini dengan refleksi rohani menjelang bulan suci Ramadan yang segera tiba.

Beberapa ulama juga menyebutkan bahwa malam Nisfu Sya’ban termasuk dalam malam keberkahan yang dianjurkan umat Islam menghidupinya dengan berbagai bentuk ibadah. Malam ini tidak hanya menjadi waktu untuk taubat, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya meningkatkan kualitas hubungan dengan Allah SWT serta memperbaiki diri secara menyeluruh.

Ustazah Lady Eka menambahkan muhasabah harus diikuti aksi nyata memperbaiki ibadah sesuai kemampuan. “Mulai dari tahajud meski dua rakaat, tilawah rutin, hingga memperbaiki hubungan sosial, karena Ramadan menuntut hati yang bersih,” ujarnya.

Selain muhasabah, malam Nisfu Sya’ban juga identik dengan penguatan dimensi doa. Tradisi yang berkembang di masyarakat, sebagaimana juga dicatat dalam kajian keislaman Universitas Negeri Surabaya, menunjukkan bahwa malam pertengahan Sya’ban dipahami sebagai waktu yang tepat untuk memperbanyak munajat, memohon ampunan, serta memperbaiki arah hidup sebelum Ramadan.

Dalam konteks ini, doa tidak hanya diposisikan sebagai ritual, tetapi sebagai sarana dialog batin antara hamba dan Tuhannya. Para ulama menekankan bahwa inti dari amalan Nisfu Sya’ban adalah ketulusan taubat, kesadaran atas dosa, dan tekad memperbaiki kualitas iman. “Yang dinilai bukan banyaknya bacaan semata, tetapi hadirnya hati dan kesungguhan memperbaiki diri,” ujar Lady Eka Rahmawati.

Doa Malam Nisfu Sya’ban

Pada malam Nisfu Syaban, kita dianjurkan untuk memperbanyak doa. 

Berikut doa malam Nisfu Syaban lengkap beserta tuntunannya yang sepenuhnya kami salin dari laman mui.or.id:


Dalam tradisi Nusantara, biasanya doa yang dibaca adalah doa “Allāhumma yā dzal manni wa lā yumannu ‘alaika”. Ternyata doa ini sesuai keterangan as-Suyuthi, termaktub dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah dan karya “ad-Dua” karangan Ibnu Abi ad-Dunya dari Sahabat Ibnu Mas’ud ra.

Menurut Ibnu Mas’ud, orang yang membaca doa ini akan senantiasa Allah luaskan rezekinya dan Allah penuhi segala kebutuhannya. (Jalaluddin as-Suyuthi, ad-Durr al-Mantsur, juz 4, hal. 661)

Namun, dalam tradisi masyarakat Indonesia redaksi doanya sedikit berbeda dengan yang tertulis di kitab as-Suyuthi. Akan tetapi ini tidak masalah, karena sejatinya doa itu tidak terbatas. Biasanya orang Indonesia merujuk pada kitab Maslakul Akhyar karya Mufti Betawi, Syekh Sayyid Utsman bin Yahya sebagai berikut:

اللّٰهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ يَا ذَا الطَوْلِ وَالإِنْعَامِ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ ظَهْرَ اللَّاجِيْنَ وَجَارَ المُسْتَجِيْرِيْنَ وَمَأْمَنَ الخَائِفِيْنَ. اللّٰهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِيْ عِنْدَكَ فِيْ أُمِّ الكِتَابِ أَشْقِيَاءَ أَوْ مَحْرُوْمِيْنَ أَوْ مُقَتَّرِيْنَ عَلَيَّ فِي الرِزْقِ، فَامْحُ اللّٰهُمَّ فِي أُمِّ الكِتَابِ شَقَاوَتِيْ وَحِرْمَانِيْ وَاقْتِتَارَ رِزْقِيْ، وَاكْتُبْنِيْ عِنْدَكَ سُعَدَاءَ مَرْزُوْقِيْنَ مُوَفَّقِيْنَ لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ فِيْ كِتَابِكَ المُنْزَلِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكَ المُرْسَلِ: “يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ” وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمـَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ العَــالَمِيْنَ

Allāhumma yā dzal manni wa lā yumannu ‘alaika yā dzal jalāli wal ikrām, yā dzat thauli wal in‘ām, lā ilāha illā anta zhahral lājīna wa jāral mustajīrīna, wa ma’manal khā’ifīn. Allāhumma in kunta katabtanī ‘indaka fī ummil kitābi asyqiyā’a au mahrūmīna au muqattarīna ‘alayya fir rizqi, famhullāhumma fī ummil kitābi syaqāwatī, wa hirmānī waqtitāra rizqī, waktubnī ‘indaka su‘adā’a marzūqīna muwaffaqīna lil khairāt. Fa innaka qulta wa qaulukal haqq fī kitābikal munzali ‘ala lisāni nabiyyikal mursali “Yamhullāhu mā yasyā’u wa yutsbitu wa ‘indahū ummul kitāb.” Wa shallallāhu ‘alā sayyidinā Muhammadin wa ‘alā ālihī wa shahbihī wa sallama, walhamdulillāḥi rabbil ‘ālamīn.

Artinya: “Wahai Tuhanku yang maha pemberi, Engkau tidak diberi. Wahai Tuhan pemilik kebesaran dan kemuliaan. Wahai Tuhan pemilik kekayaan dan pemberi nikmat. Tiada Tuhan selain Engkau, kekuatan orang-orang yang meminta pertolongan, lindungan orang-orang yang mencari perlindungan, dan tempat aman orang-orang yang takut. Tuhanku, jika Kau mencatatku di sisi-Mu pada Lauh Mahfuzh sebagai orang celaka, sial, atau orang yang sempit rezeki, maka hapuskanlah di Lauh Mahfuzh kecelakaan, kesialan, dan kesempitan rezekiku. Catatlah aku di sisi-Mu sebagai orang yang mujur, murah rezeki, dan taufiq untuk berbuat kebaikan karena Engkau telah berkata-sementara perkataan-Mu adalah benar-di kitabmu yang diturunkan melalui ucapan Rasul utusan-Mu, ‘Allah menghapus dan menetapkan apa yang Ia kehendaki di sisi-Nya Lauh Mahfuzh.’ Semoga Allah memberikan shalawat kepada Sayyidina Muhammad, keluarga, beserta sahabatnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”

(Sayyid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, hal. 77-80)


Doa ini ditulis mui.or.id, biasanya menjadi selingan setelah membaca surat Yasin. Di malam Nisfu Syaban, surat Yasin biasanya dibaca sebanyak tiga kali dengan niat yang berbeda. Yasin pertama dibaca dengan niat agar dipanjangkan umur dalam taat. Yasin kedua dengan niat agar dikaruniai rezeki yang halal dan berkah. Yasin ketiga dengan niat agar dianugerahi kematian husnul khatimah dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....