Makna dan Keutamaan, Doa di Malam Nisfu Sya’ban

  • 02 Feb 2026 13:36 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, JAKARTA - Nisfu Sya’ban merupakan salah satu momentum spiritual penting dalam tradisi Islam. Istilah nisfu berarti pertengahan, sehingga Nisfu Sya’ban merujuk pada malam pertengahan bulan Sya’ban, yaitu malam tanggal 15 dalam kalender Hijriah. Pada tahun 2026, malam Nisfu Sya’ban diperingati pada Senin malam, 2 Februari 2026, sejak waktu Maghrib hingga menjelang Subuh Selasa, 3 Februari 2026. Momen ini menjadi pengingat sekaligus persiapan batin menjelang datangnya bulan Ramadan.

Secara historis, Nisfu Sya’ban dikaitkan dengan berbagai riwayat yang menjelaskan keutamaannya. Dalam sejumlah hadis disebutkan bahwa pada malam tersebut Allah SWT melimpahkan ampunan kepada hamba-hamba-Nya, kecuali mereka yang masih terjerat kesyirikan, permusuhan, dan kezaliman yang belum diselesaikan. Karena itu, Nisfu Sya’ban dipahami bukan hanya sebagai malam doa, tetapi juga malam evaluasi diri dan pembersihan hati.

Dalam praktik keagamaan umat Islam, malam Nisfu Sya’ban kerap diisi dengan ibadah sunnah. Salat malam, membaca Al-Qur’an, zikir, serta memperbanyak doa menjadi amalan yang umum dilakukan. Tradisi ini berkembang di berbagai wilayah, termasuk Indonesia, sebagai wujud kesadaran spiritual bahwa manusia membutuhkan bimbingan dan ampunan Allah SWT sebelum memasuki bulan suci Ramadan.

Doa-doa yang dibaca pada malam Nisfu Sya’ban umumnya berisi permohonan ampunan, keselamatan, dan keberkahan hidup.  Pada malam Nisfu Sya’ban, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa sebagai bentuk penghambaan dan harapan akan ampunan Allah SWT. Salah satu doa yang paling dikenal dan sering dibaca adalah sebagai berikut:

Allahumma yā dzal-manni walā yumannu ‘alaih, yā dzal-jalāli wal-ikrām, yā dzath-thauli wal-in‘ām.
Lā ilāha illā anta, zhahral-lājī’īn, wa jāra-l-mustajīrīn, wa amāna-l-khā’ifīn.
Allāhumma in kunta katabtanī ‘indaka fī ummil-kitābi syaqiyyan au maḥrūman au maṭrūdan au muqattaran ‘alayya fir-rizqi, famḥu Allāhumma bifaḍlika syaqāwatī wa ḥirmānī wa ṭardī wa taqtīra rizqī.
Watsbitnī ‘indaka fī ummil-kitābi sa‘īdan marzūqan muwaffaqan lil-khairāti.
Fa innaka qulta wa qawluka-l-ḥaqqu fī kitābikal-munzali ‘alā nabiyyikal-mursal:
Yamḥullāhu mā yasyā’u wa yutsbitu wa ‘indahu ummul-kitāb.
Wa ṣallallāhu ‘alā sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihī wa ṣaḥbihī ajma‘īn.

Artinya

“Ya Allah, Dzat yang memiliki karunia dan tidak membutuhkan balasan, Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan, Dzat yang memiliki anugerah dan pemberian.

Tiada Tuhan selain Engkau, tempat berlindung orang-orang yang berharap, pelindung orang-orang yang meminta perlindungan, dan pemberi rasa aman bagi orang-orang yang takut.

Ya Allah, jika Engkau telah menetapkanku di dalam Ummul Kitab sebagai orang yang celaka, terhalang dari kebaikan, terusir, atau disempitkan rezekinya, maka hapuskanlah dengan karunia-Mu segala kecelakaan, keterhalangan, keterusiran, dan kesempitan rezekiku itu.

Tetapkanlah aku di sisi-Mu dalam Ummul Kitab sebagai orang yang bahagia, diberi rezeki yang luas, dan diberi taufik untuk melakukan kebaikan.

Sesungguhnya Engkau telah berfirman—dan firman-Mu adalah benar—dalam Kitab-Mu yang diturunkan kepada Nabi-Mu yang diutus:

‘Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab.’

Semoga shalawat dan salam tercurah kepada junjungan kami Nabi Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.”

Doa ini mencerminkan pengakuan atas kebesaran Allah SWT sekaligus harapan manusia agar diberikan kehidupan yang lebih baik, penuh keberkahan, dan dipenuhi kebaikan. Membacanya pada malam Nisfu Sya’ban menjadi sarana refleksi mendalam sebelum memasuki Ramadan, agar setiap langkah ibadah dimulai dengan hati yang bersih dan niat yang lurus.

Manfaat peringatan Nisfu Sya’ban tidak hanya dirasakan secara spiritual, tetapi juga sosial. Secara batin, malam ini menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memperkuat kesadaran diri. Secara sosial, Nisfu Sya’ban mengajarkan pentingnya memperbaiki hubungan antarmanusia, memaafkan, dan melepaskan dendam, karena kebersihan hati menjadi salah satu kunci diterimanya ampunan Ilahi.

Dengan demikian, Nisfu Sya’ban bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan momentum reflektif yang mengajak umat Islam menata hati, memperbaiki diri, dan menyambut Ramadan dengan jiwa yang lebih siap, tenang, dan penuh harapan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....