Menghadapi Bencana dalam Perspektif Islam
- 27 Jan 2026 11:09 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Bencana alam perlu disikapi dengan keimanan yang kokoh, ikhtiar yang sungguh-sungguh, dan kepedulian sosial yang nyata. Hal tersebut disampaikan Mulawarman Hannase dalam Dialog Mutiara Pagi Pro 1 RRI Jakarta, Selasa, 27 Januari 2026.
Dalam dialog yang dipandu presenter Farid Kurniawan tersebut, Dr. H. Mulawarman Hannase menjelaskan bahwa Islam memandang bencana sebagai bagian dari ketetapan Allah yang mengandung hikmah. Menurutnya, musibah bukan hanya ujian, tetapi juga sarana introspeksi bagi manusia.
“Bencana mengingatkan manusia agar tidak merasa paling berkuasa di muka bumi,” ujarnya. Ia menilai kesadaran akan keterbatasan manusia menjadi pintu awal penguatan iman.
Mulawarman menjelaskan, dalam Al-Qur’an dan hadis, manusia diajarkan untuk bersikap sabar dan tawakal saat menghadapi musibah. Namun, sikap tawakal tidak boleh dimaknai sebagai pasrah tanpa usaha.
“Islam mengajarkan keseimbangan antara tawakal dan ikhtiar,” katanya. Upaya mitigasi, kesiapsiagaan, serta menjaga lingkungan dinilai sebagai bagian dari tanggung jawab keimanan.
Ia menegaskan bahwa kerusakan alam sering kali berakar dari perilaku manusia yang abai terhadap keseimbangan lingkungan. Oleh karena itu, menjaga alam dipandang sebagai amanah yang harus dijaga bersama.
“Merawat alam adalah bagian dari ibadah,” ujarnya. Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan mencerminkan kesadaran spiritual seorang muslim.
Dalam Dialog Mutiara Pagi tersebut, Mulawarman juga menekankan pentingnya solidaritas sosial saat bencana terjadi. Islam, kata dia, mendorong umat untuk hadir membantu sesama tanpa memandang latar belakang.
“Menolong korban bencana adalah bentuk ibadah sosial yang sangat mulia,” katanya. Kepedulian tersebut dinilai mampu menguatkan persaudaraan dan empati di tengah masyarakat.
Selain itu, Mulawarman mengajak umat Islam untuk tetap optimistis dan tidak larut dalam keputusasaan. Setiap ujian diyakini selalu disertai jalan keluar dan pertolongan Allah.
“Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang bersabar,” ujarnya. Sikap sabar dan ikhlas dinilai mampu menumbuhkan ketenangan batin di tengah situasi sulit.
Menutup dialog, Mulawarman berpesan agar masyarakat menjadikan bencana sebagai momentum memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia. Ia berharap nilai-nilai keimanan dapat menjadi kekuatan bersama dalam menghadapi berbagai cobaan.
“Musibah bukan akhir segalanya, tetapi awal untuk menjadi pribadi yang lebih bertakwa,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....