Silat Beksi Meneguhkan Identitas Budaya Urban Jakarta

  • 26 Okt 2025 23:39 WIB
  •  Jakarta

KBRN, Jakarta: Di tengah hiruk-pikuk kota modern yang serba cepat, silat Beksi tetap tegak berdiri sebagai penanda jati diri masyarakat Betawi. Dari kampung Dadap hingga sudut-sudut Jakarta Selatan, napas warisan leluhur ini terus berdenyut di antara gedung beton dan jalan beraspal.

Suasana penuh semangat menyelimuti RPTRA Pinang Indah, Pondok Pinang, pada Minggu 26 Oktober 2025, ketika ratusan murid muda mempraktikkan jurus beksi dengan hentakan kaki yang memecah pagi. Kegiatan Napak Tilas PPS Beksi Panca Mustika Tunggal (BPMT) bukan sekadar atraksi bela diri, tetapi upaya merawat identitas di tengah modernitas Jakarta.

Baba Idrus, pimpinan BPMT, menegaskan bahwa silat Beksi bukan hanya soal jurus, tetapi juga tentang falsafah hidup. “Beksi itu bukan sekadar bela diri. Di dalamnya ada kejujuran, keberanian, dan kesetiaan terhadap guru serta tanah kelahiran,” ujar Baba Idrus.

Mitos silat Beksi Betawi diyakini bermula dari latihan dengan siluman macan putih. Cerita ini menjadi bagian menarik dari warisan budaya Betawi yang sarat nilai dan kepercayaan masyarakat. Sumber informasi dari laman senibudayabetawi.comyang kami akses pada Rabu, 29 Oktober 2025). (Foto: Ilustrasi/senibudayabetawi.com)

baca juga:

- Silat BEKSI Panca Mustika Tunggal Rayakan HUT RI

- Perguruan Silat Beksi 4 Bintang


Dari Kampung Dadap ke Jantung Jakarta

Peneliti Yuzar Purnama dalam jurnal "Mitos Silat Beksi Betawi" mencatat, silat Beksi lahir sekitar tahun 1800 di Desa Dadap, Tangerang, hasil percampuran antara jurus Betawi dan bela diri Tionghoa. Ilmu ini diajarkan oleh tokoh-tokoh seperti Engkong Jidan dan Lie Ceng Oek, lalu berkembang melalui murid-muridnya hingga menyebar ke Petukangan, Batuceper, dan Jakarta Selatan.

Dalam penelitian ini, diperkirakan ada lebih dari 120 sanggar Beksi aktif di Jabodetabek. Jumlah itu menandakan bahwa tradisi ini bukan hanya bertahan, tapi juga menyesuaikan diri dengan dinamika kota megapolitan.

Beksi bukan sekadar seni bela diri; ia simbol identitas. Gerakannya yang atraktif, ledakan pukulannya yang reflektif, dan filosofi “mau pukul, ogah dipukul” menjadi perwujudan watak tegas masyarakat Betawi. Namun, di tengah gempuran budaya global, nilai-nilai itu perlahan tergerus.

Menurut Yuzar, mitos-mitos dalam Beksi—seperti kisah siluman macan putih yang mengajarkan jurus kepada manusia—adalah cara masyarakat memuliakan ilmunya. “Mitos bukan sekadar cerita mistis, tapi sarana untuk menanamkan rasa hormat dan kebanggaan terhadap tradisi,” tulisnya.

Kembali ke acara napak tilas Beksi Panca Mustika Tunggal yang bisa menjadi potret bagaimana masyarakat berusaha melawan lupa. Lebih dari 150 murid muda menampilkan 'nandak massal jurus Beksi'. Mereka bukan sekadar berlatih bela diri, tapi juga mempraktikkan warisan kepribadian Betawi: sopan, gigih, dan setia pada tanah kelahiran.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....