5 Fakta Unik Pohon Bintaro 'Cantik tapi mematikan'

  • 16 Mei 2025 09:52 WIB
  •  Jakarta

KBRN, Jakarta: Di balik keindahan bentuk dan fungsinya sebagai tanaman penghijauan, pohon bintaro ternyata menyimpan bahaya laten yang perlu diwaspadai. Pohon yang dikenal dengan nama ilmiah Cerbera manghas ini kerap dijumpai di taman-taman kota, termasuk di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan. Meski tampil menawan, seluruh bagian pohon ini mengandung racun yang berpotensi mematikan.

Berdasarkan data dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lamongan, laman rumahtani, dan modul Toponimi Kemendikbud, berikut lima fakta unik mengenai pohon bintaro yang patut diketahui.

Ilustrasi. (Foto:Bishnu Sarangi/Pixabay)

1. Pohon bintaro sering dipakai untuk penghijauan kota

Pohon bintaro kerap dijadikan tanaman penghijauan di perkotaan karena bentuknya yang indah dan tajuknya yang rindang. Daunnya tunggal, lonjong, dengan permukaan licin dan tulang daun menyirip. Pohon ini mampu tumbuh setinggi 10 hingga 20 meter dengan diameter mencapai 40 cm.

Menurut laman Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lamongan, bintaro tergolong tanaman yang mampu menyerap polutan dan menghasilkan oksigen, sehingga sangat bermanfaat dalam menyejukkan udara perkotaan. Bunganya berwarna putih dan majemuk, menambah nilai estetika di lingkungan sekitarnya.

Ilustrasi. (Foto:Bishnu Sarangi/Pixabay)

2. Buah bintaro tidak dapat dikonsumsi karena mengandung racun

Meskipun tampak seperti buah mangga laut, buah bintaro tidak bisa dikonsumsi. Laman rumahtani menyebutkan bahwa buah ini mengandung saponin dan asam fenolik yang bersifat toksik. Kandungan racunnya sangat berbahaya bagi manusia dan hewan jika tertelan.

“Komposisi buah bintaro adalah 8 persen biji dan 92 persen daging buah, namun bijinya sendiri mengandung senyawa cerberin yang mematikan,” ujar rumahtani dalam artikelnya. Bahkan, pembakaran kayu bintaro pun dapat menghasilkan asap beracun.

3. Kandungan racunnya berpotensi dijadikan bahan bakar alternatif

Meski beracun, biji bintaro menyimpan potensi sebagai energi terbarukan. Menurut rumahtani, kandungan minyak dalam bijinya mencapai 54,33 persen dan bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel. Ini menjadikan pohon bintaro sebagai tanaman alternatif dalam pengembangan bioenergi.

“Dengan kandungan selulosa yang tinggi, bintaro sangat potensial untuk dijadikan bahan bakar seperti bioetanol,” ucap laman tersebut. Potensi ini membuat bintaro relevan dalam konteks transisi energi di Indonesia.

Foto: Ilustrasi/nparks.gov.sg

4. Bintaro dikenal dalam sejarah dan budaya lokal

Nama Bintaro tak hanya dikenal sebagai tumbuhan, tetapi juga menjadi nama kawasan di Jakarta Selatan. Dalam modul toponimi Kemendikbud, nama Bintaro berasal dari keberadaan pohon bintaro yang tumbuh di daerah tersebut. Bahkan, musisi Iwan Fals menciptakan lagu berjudul 1910 yang merujuk pada tragedi kecelakaan kereta api di Bintaro, 38 tahun silam.

“Nama Bintaro diambil dari pohon yang banyak tumbuh di wilayah itu,” kata data modul toponimi Kemendikbud.

5. Seluruh bagian pohon bintaro mengandung senyawa toksik

Pohon bintaro dikenal sebagai tanaman yang seluruh bagiannya mengandung senyawa beracun, termasuk cerberin, odolline, dan alkaloid lainnya. Racun ini dapat menyebabkan gangguan jantung, keracunan, bahkan kematian bila dikonsumsi.

“Biji bintaro merupakan bagian paling beracun dan sering dijadikan rodentisida untuk mengendalikan hama tikus,” ujar Dinas Lingkungan Hidup Lamongan. Karena sifat racunnya, tanaman ini harus ditangani dengan hati-hati meskipun memiliki banyak manfaat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....