Anak Gen Alfa Populerkan Istilah Aneh dari Meme
- 08 Mei 2025 14:01 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta: “Ballerina Cappucina, Bombardiro Crocodilo, Tralalero Tralala, Tung tung tung.... sahur!”Pernahkah si kecil tiba-tiba nyeletuk kalimat seperti itu tanpa konteks yang jelas?Istilah-istilah absurd atau bertentangan dengan nalar umum ini tengah menjadi tren di kalangan anak-anak Gen Alfa.
Banyak orang tua merasa bingung dan tak memahami maksud dari kata-kata tersebut.Akun Instagram @kumparanmom sempat membahas fenomena ini dalam salah satu unggahannya. Istilah-istilah nyeleneh itu ternyata berasal dari meme dan humor absurd yang digandrungi anak-anak di media sosial.Mereka menyebut gaya humor ini sebagai “anomali”.
Anomali dalam konteks ini berarti sesuatu yang tidak masuk akal tapi dianggap lucu oleh mereka.Berikut beberapa contoh karakter “anomali” yang mereka sukai:
Tung tung tung sahur: Digambarkan sebagai makhluk kayu pembawa pentungan yang muncul jika dibangunkan sahur tiga kali namun tak menjawab.Bombardiro Crocodilo: Karakter buaya yang berperan sebagai pesawat pengebom—aneh tapi menggelitik.
Ballerina Cappucina: Sosok balerina yang memiliki kepala berbentuk cangkir cappuccino.Tralalero Tralala: Hiu berjari kaki dan mengenakan sepatu Nike—kombinasi tak terduga yang justru memicu tawa.
Fenomena ini memang lucu bagi anak, tapi membingungkan bagi orang tua. Perbedaan selera humor antar generasi bisa menimbulkan kebingungan dan jarak komunikasi.Psikolog Klinis Anak dari Rumah Dandelion, Rizqina Ardiwijaya, menyebut fenomena ini memiliki dua sisi.
Di satu sisi, humor absurd bisa memicu kreativitas dan menjadi sarana ekspresi diri.Selain itu, istilah-istilah ini dapat mempererat relasi sosial anak-anak yang berada di lingkungan digital.
Mereka merasa menjadi bagian dari tren yang sedang ramai dibicarakan.Namun di sisi lain, terlalu sering terpapar konten seperti ini bisa berdampak negatif. Salah satu risikonya adalah penurunan fungsi kognitif, yang populer dengan istilah “brain rot”.
Selain itu, kemampuan anak menggunakan bahasa formal bisa terganggu. Ini tentu berdampak pada aktivitas belajar atau komunikasi yang menuntut struktur bahasa yang baik.Rizqina juga menyoroti potensi kesalahpahaman antar generasi.
Saat anak tertawa lepas, orang tua malah kebingungan dan dianggap tidak “nyambung”.
Daripada melarang, orang tua sebaiknya terlibat dan berdialog. Tanyakan makna istilah tersebut dan biarkan anak menjelaskan dengan cara mereka.
Dengan cara itu, orang tua dapat menjembatani dunia digital anak. Sekaligus, mereka bisa menanamkan pemahaman soal penggunaan bahasa yang sesuai dengan konteks.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....