IYCTC Kritik Rencana Pabrik Rokok Aceh Hambat Kesehatan Publik

  • 26 Jan 2025 17:40 WIB
  •  Jakarta

KBRN, Jakarta: Rencana pembangunan pabrik rokok di Aceh menuai kritik tajam dari Indonesian Youth Council for Tactical Changes atau IYCTC. Dalam pernyataan bersama dengan Generasi Peduli Kendali Tembakau atau Genita Aceh, IYCTC, kelompok masyarakat yang aktif melakukan kampanye bahaya rokok menyatakan penolakan tegas terhadap rencana Gubernur Aceh terpilih untuk mendatangkan investor demi membangun pabrik rokok di Lhokseumawe.

Ketua IYCTC, Manik Marganamahendera, menilai langkah ini kontraproduktif terhadap kesehatan publik dan kesejahteraan jangka panjang masyarakat Aceh. "Mengatasi pengangguran melalui industri yang membahayakan kesehatan bukanlah solusi etis maupun berkelanjutan," ujar Manik dalam pernyataan tertulis, pada Minggu 26 Januari 2025.

Ia mengungkapkan, pekerja di pabrik rokok menghadapi risiko tinggi terpapar bahan berbahaya seperti debu tembakau dan nikotin. "Paparan ini dapat memicu penyakit serius, seperti penyakit paru obstruktif kronis atau PPOK, yang jelas akan memperburuk kondisi pekerja," ujarnya menegaskan.

Data dari studi yang disampaikan IYCTC di salah satu pabrik rokok di Semarang menunjukkan 55,6% pekerja mengalami gangguan fungsi paru akibat paparan tembakau. "Penelitian Human Rights Watch pada 2016 juga mengungkap pekerja, termasuk anak-anak, kerap mengalami keracunan nikotin melalui kulit atau inhalasi saat menangani daun tembakau basah," kata Manik.

Manik menambahkan, klaim penciptaan lapangan kerja sering kali menutupi dampak ekonomi negatif yang dihasilkan industri rokok. "Penyakit akibat rokok menyebabkan kerugian ekonomi nasional hingga ratusan triliun rupiah per tahun akibat biaya kesehatan dan hilangnya produktivitas," ujarnya.

Ketua Genita Aceh, Muhammad Hafiz Daniel, juga menyatakan keprihatinan serupa. Ia menyebut investasi dalam industri rokok adalah "bom waktu" yang akan membebani sistem kesehatan daerah. "Aceh memiliki potensi besar di sektor lain seperti ekowisata, pariwisata budaya, industri kreatif, dan energi terbarukan," kata Hafiz.

Menurut Hafiz, Aceh dapat menjadi contoh pembangunan yang sehat dan inklusif tanpa harus bergantung pada industri rokok. "Risiko kesehatan dari pabrik rokok ini tidak hanya berdampak pada pekerja, tetapi juga pada keluarga mereka dan generasi muda," ujarnya menambahkan.

Manik menekankan bahwa keberadaan pabrik rokok akan memperkuat normalisasi konsumsi rokok di kalangan anak-anak dan remaja. "Industri ini sering menjadikan generasi muda sebagai target pasar, baik secara langsung maupun tidak langsung," ujarnya memaparkan.

Sebagai langkah penolakan, IYCTC dan Genita Aceh mengirimkan surat keberatan resmi kepada pemerintah Aceh. "Investasi dalam sektor pendidikan, teknologi, dan ekonomi kreatif adalah pilihan terbaik untuk kesejahteraan masyarakat Aceh," ujar Manik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....