Tradisi Persekutuan Akhir Tahun Pererat Ikatan Batak
- 31 Des 2024 07:58 WIB
- Jakarta
KBRN, Jakarta: Persekutuan akhir tahun pada 31 Desember menjadi tradisi penting bagi masyarakat Batak, diisi dengan ibadah, refleksi, dan perayaan bersama keluarga besar. Tradisi ini memiliki dampak sosial dan psikologis yang signifikan, terutama dalam mempererat hubungan kekeluargaan.
Ronsen, seorang tokoh budaya Batak, mengatalam pentingnya tradisi ini dalam menjaga keharmonisan keluarga. “Dampak sosial dalam ikatan persekutuan dapat dilihat dari keluarga yang harmonis. Jangan sampai kita tidak mampu mendeteksi putra-putri kita, jadi dalam keluarga harus dapat menciptakan suasana yang menyenangkan seperti sering berkomunikasi,” ujarnya saat diwawancara dalam siaran radio 92,8 Pro4 RRI Jakarta, Senin 30 Desember 2024.
Persekutuan akhir tahun menurut Ronsen juga menjadi ajang berkumpulnya keluarga besar, termasuk anggota yang jarang bertemu sepanjang tahun. Tradisi ini memperkuat nilai gotong royong dan mempererat hubungan kekerabatan.
Selain itu, persekutuan sering diisi dengan tradisi mangulosi atau pemberian ulos sebagai simbol cinta dan doa. Ronsen menambahkan, aktivitas seperti menyanyikan lagu rohani Batak dan menggunakan bahasa Batak membantu melestarikan budaya di tengah arus modernisasi.
Di komunitas Batak perantauan, persekutuan akhir tahun menjadi sarana mempererat solidaritas dan membangun jaringan sosial. Banyak komunitas memanfaatkan momen ini untuk kegiatan amal dan gotong royong, memberikan bantuan kepada anggota yang membutuhkan.
Dampak psikologis dari persekutuan ini juga terasa kuat. Ibadah dan refleksi mendorong rasa syukur dan memberikan efek positif pada kesehatan mental. “Perayaan bersama keluarga mengurangi stres dan rasa kesepian, terutama bagi mereka yang jauh dari tanah Batak,” ujar Ronsen menjelaskan.
Namun, tantangan tetap ada. Kesenjangan generasi dan tekanan ekonomi sering menjadi kendala dalam menjaga tradisi ini tetap hidup. “Anak-anak muda yang besar di luar daerah terkadang kurang memahami pentingnya tradisi ini. Kita perlu pendekatan agar tradisi ini tetap relevan,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....