Fakta-fakta Menarik Ventriloquisme atau Ilmu Mengolah Suara Perut

  • 24 Okt 2024 09:49 WIB
  •  Jakarta

KBRN, Jakarta: Apa yang membuat ventriloquis atau pelaku seni yang berbicara tanpa menggerakkan bibir masih bertahan? Padahal, bisa jadi, boneka yang mereka bawa-bawa punya karakter berbeda dengan dirinya.

Habib Prastyo yang akrab disapa Kak Tyo, Bidang Humas & Publikasi Komunitas Ventrilokuis Indonesia (Vent Indo) mengatakan seni seni suara perut ini bisa menjadi acara komedi yang cerdas dan menghibur. "Seni ventriloquisme juga menjadi sarana edukasi yang efektif," kata Kak Tyo pada Kamis 24 Oktober 2024.

Beberapa ventriloquis di Indonesia kata Prastyo menggunakan karakternya untuk menyampaikan pesan-pesan positif seperti pentingnya disiplin, kerjasama, dan toleransi kepada anak-anak. "Interaksi yang lucu dan menggemaskan antara boneka dan ventriloquis menjadi cara yang efektif untuk menyampaikan pesan moral tanpa terkesan menggurui," ujarnya.

Dalam wawancara dengan rri.co.id, Prastyo yang juga seorang ventriloquis ini mengatakan seni sulap suara mampu memikat hati penonton karena bisa 'menghidupkan' boneka dan karakter imajinatif tanpa menggerakkan bibir mereka. "Keterampilan ini tidak hanya menghibur, tetapi juga membawa unsur komedi dan keajaiban dalam setiap penampilan," ujar dia.

Dalam dunia ventriloquisme, dikenal istilah alter ego. Alter ego menurut Prastyo adalah kemampuan pelaku seni suara perut untuk menghibur orang dan mengenal potensi tersembunyi dalam dirinya.

"Alter ego seseorang merujuk pada karakter boneka yang digunakan oleh seorang ventriloquis (pembawa suara)," ucap Prastyo. Dia menambahkan, alter ego adalah perwujudan dari karakter berbeda yang dikendalikan oleh ventriloquis, baik dalam suara, kepribadian, maupun perilakunya.

Ventriloquis berperan sebagai diri mereka sendiri, namun juga menciptakan karakter boneka dengan sifat-sifat yang berbeda, seperti humoris, nakal, atau bijaksana. Boneka ini menjadi "suara" lain dalam percakapan, seakan-akan mereka adalah entitas yang terpisah dari ventriloquist. "Misalnya, boneka tersebut mungkin memiliki pendapat yang kontras, atau bertindak lebih berani dibanding ventriloquist itu sendiri," ujar Prastyo menjelaskan.

Alter ego ini memungkinkan ventriloquis untuk menciptakan dialog yang lucu dan dinamis, sering kali memberikan perspektif yang lebih bebas tanpa harus sepenuhnya terasosiasi dengan kepribadian asli sang ventriloquis.

Selama menggeluti dunia seni ini, Prastyo selalu ditemani boneka andalannya. Dia memberi nama dengan nama "Karyo". Setiap kali perform atau show, Prastyo dan "Karyo" mampu mengundang tawa dan kagum penonton diberbagai acara televisi, media sosial, serta pertunjukan langsung.

Salah satu ventriloquis Indnesia adalah Ria Enes dengan boneka perempuan bernama Suzan. Hingga saat ini, diera digital, seni sulap suara di Indonesia tetap bertahan dan semakin banyaknya konten-konten viral di media sosial.

Video-video ini, seperti yang terlihat di beberapa tayangan rri.co.id, sering menyelipkan sketsa humor, sindiran sosial, hingga kritik halus terhadap isu-isu hangat, semuanya disajikan dengan cara yang menghibur.

Mengutip laman historia.id, ventriloquisme atau ilmu mengolah suara perut berkembang di masyarakat Semit, Yunani, Romawi, dan Mesir Kuno. Menurut Steven Connor dalam bukunya "Dumbstruck: A Cultural History of Ventriloquism", masyarakat kuno menggunakan ventriloquisme sebagai penghubung antara orang hidup dengan orang mati, menempatkan para ventriloquis pada posisi terhormat.

Namun, pandangan ini berubah drastis pada abad pertengahan (abad ke-5 hingga 16), di mana para pendeta dan biarawan melarang ilmu ini, menganggap pelakunya sebagai kaum pagan dan penyihir yang layak dihukum dan disiksa.

Meskipun memiliki sejarah panjang dengan pasang surut penerimaan, seni ventriloquisme telah membuktikan daya tahannya. Dari fungsi spiritual di masa lampau hingga menjadi media hiburan dan edukasi di era modern, ventriloquisme terus beradaptasi.

Kemampuan para senimannya untuk menciptakan alter ego yang hidup, menyampaikan pesan moral secara ringan, dan berkolaborasi dengan platform digital, menjadi kunci mengapa seni ini tetap relevan dan dicintai. Ini menunjukkan bahwa kreativitas dan inovasi dapat menjaga sebuah seni tradisional tetap hidup dan memikat di tengah perubahan zaman.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....