Dari Limbah Jadi Cuan, UMKM Cilincing Naik Kelas Bersama Bank Jakarta
- 20 Jul 2026 11:46 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta – Bagi sebagian besar orang, tumpukan duri ikan hanyalah limbah berbau yang dianggap tidak berguna dan berakhir di tempat pembuangan. Namun, di tangan Muhamad Tohir, warga pesisir Cilincing, Jakarta Utara, limbah tersebut justru menjadi awal lahirnya sebuah usaha yang mampu mengubah perekonomian keluarganya.
Di balik ketajaman dan aroma menyengat duri ikan, Tohir melihat peluang yang belum banyak dilirik. Kawasan Cilincing yang dikenal sebagai wilayah dengan aktivitas nelayan dan pengolahan hasil laut menghasilkan limbah ikan dalam jumlah besar setiap harinya. Bahan yang selama ini dipandang sebagai sisa produksi, bagi Tohir justru memiliki nilai ekonomi.
Berangkat dari rasa prihatin sekaligus keingintahuan, Tohir mulai bereksperimen mengolah limbah tulang dan duri ikan. Melalui proses yang tidak singkat, ia berhasil mengubah limbah tersebut menjadi berbagai produk bernilai tambah, mulai dari tepung ikan untuk kebutuhan pangan, bahan baku pakan ternak berkualitas tinggi, hingga produk turunan lain yang memiliki nilai jual.
Namun, mengubah gagasan menjadi usaha yang berkelanjutan bukanlah perkara mudah. Pada awal merintis usaha, Tohir menghadapi tantangan yang umum dialami pelaku UMKM, yakni keterbatasan modal. Keinginan meningkatkan kapasitas produksi kerap terkendala peralatan yang masih sederhana serta kemampuan produksi yang terbatas.
Titik Balik Bersama Bank Jakarta
Perjalanan usaha Tohir kemudian mendapat dukungan pembiayaan dari Bank Jakarta melalui program akses permodalan bagi pelaku UMKM. Dukungan tersebut menjadi salah satu faktor yang membantunya meningkatkan kapasitas usaha, sejalan dengan komitmen Bank Jakarta dalam memperluas pembiayaan bagi sektor UMKM di Ibu Kota.
Modal yang diterima dimanfaatkan untuk membeli mesin pengolahan yang lebih modern, meningkatkan kapasitas produksi harian, serta memperbaiki proses pengemasan agar produk memiliki nilai tambah dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Perubahan itu membawa dampak nyata bagi perkembangan usahanya. Pengolahan limbah duri ikan yang semula dilakukan secara sederhana kini berkembang menjadi usaha yang mampu menyerap tenaga kerja dari lingkungan sekitar. Produk olahannya juga dipasarkan sebagai bahan baku industri pakan ternak sehingga limbah yang sebelumnya tidak dimanfaatkan kini memiliki nilai ekonomi.
"Dulu duri ini dibuang begitu saja. Sekarang, duri ini yang menghidupi kami," ujar Tohir saat menunjukkan tumpukan bahan baku duri ikan yang siap diolah kepada RRI Jakarta, Minggu (19/7/2026).
Selain membuka lapangan pekerjaan, usaha yang dirintis Tohir turut membantu mengurangi limbah organik dari aktivitas pengolahan ikan di kawasan pesisir Jakarta Utara. Tulang dan duri ikan yang sebelumnya berpotensi menjadi pencemar lingkungan kini diolah kembali menjadi bahan baku yang dapat dimanfaatkan industri.
Kisah Muhamad Tohir memperlihatkan bahwa inovasi tidak selalu lahir dari teknologi yang rumit. Berangkat dari persoalan sederhana di lingkungan sekitar, ia mampu mengubah limbah menjadi produk bernilai ekonomi. Dukungan akses pembiayaan, inovasi, dan ketekunan menjadi modal penting bagi pelaku UMKM untuk mengembangkan usaha sekaligus menciptakan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Kisah ini juga menjadi gambaran bagaimana ekonomi sirkular dapat tumbuh dari tingkat lokal ketika limbah dipandang sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai guna.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....