Implementasi Moderasi Beragama Perkuat Respons Kebencanaan
- 15 Sep 2026 11:24 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Moderasi beragama dapat diwujudkan melalui sikap toleran, setara, dan saling membantu dalam situasi kebencanaan.
- Respons bencana membutuhkan kolaborasi masyarakat lintas agama dan latar belakang tanpa membedakan identitas korban.
- Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika menjadi landasan untuk membangun solidaritas dan ketangguhan masyarakat menghadapi bencana.
RRI.CO.ID, Jakarta: Ketika bencana datang, perbedaan agama, suku, maupun latar belakang sosial seharusnya tidak menjadi jarak. Di tengah situasi darurat, yang dibutuhkan justru kepedulian, gotong royong, dan kemampuan untuk bergerak bersama. Gagasan tersebut menjadi salah satu benang merah dialog Beranda Astacita subprogram Moderasi Beragama RRI Pro 1 Jakarta bertema “Implementasi Moderasi Beragama Dalam Mengantisipasi Situasi Kebencanaan”, Selasa, 15 September 2026. Dialog menghadirkan Rozamon Anwar dan Lia Nathalia, Pendiri dan Koordinator Serumpun Bakung, dengan Yudhi Ismail sebagai host.
MODERASI BERAGAMA DALAM SITUASI BENCANA
Moderasi beragama tidak hanya berbicara tentang bagaimana seseorang menjalankan keyakinannya, tetapi juga bagaimana nilai-nilai agama diwujudkan dalam kehidupan bersama. Dalam konteks kebencanaan, nilai tersebut dapat terlihat dari sikap saling menghormati, tidak membeda-bedakan korban, serta kesediaan membantu siapa pun yang membutuhkan pertolongan.
Rozamon Anwar dan Lia Nathalia mengembangkan pembahasan bahwa situasi bencana membutuhkan solidaritas yang melampaui sekat-sekat identitas. Ketika masyarakat berada dalam kondisi sulit, kepedulian terhadap sesama menjadi bagian penting dari kekuatan sosial. Hal ini sejalan dengan upaya penanggulangan bencana di Indonesia yang semakin menekankan pentingnya kolaborasi. BNPB menyebut keterlibatan organisasi masyarakat keagamaan dan lembaga lintas agama penting dalam seluruh tahapan penanggulangan bencana, mulai dari pra-bencana hingga pascabencana.
DARI TOLERANSI MENUJU AKSI NYATA
Moderasi beragama dalam kebencanaan tidak cukup berhenti pada toleransi dalam ucapan. Nilainya perlu diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Misalnya, ketika terjadi banjir, gempa, longsor, atau bencana lainnya, masyarakat dapat bersama-sama membuka posko, mendistribusikan bantuan, memberikan informasi yang benar, membantu kelompok rentan, hingga mendampingi warga dalam proses pemulihan.
Dalam dialog, moderasi beragama ditempatkan sebagai cara membangun respons kebencanaan yang lebih inklusif. Artinya, bantuan dan pelayanan diberikan berdasarkan kebutuhan korban, bukan berdasarkan agama atau latar belakangnya.
Pendekatan semacam ini juga sejalan dengan perspektif kebencanaan yang dikembangkan pemerintah. BNPB menilai kerja sama lintas agama dalam kegiatan kemanusiaan dapat memperkuat kapasitas masyarakat untuk menghadapi dan menanggulangi bencana secara bersama.
PANCASILA DAN BHINNEKA TUNGGAL IKA
Indonesia memiliki modal sosial yang kuat untuk membangun ketangguhan menghadapi bencana. Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika menjadi landasan bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpecah, tetapi kekuatan untuk saling melengkapi.
Dalam konteks mitigasi bencana, perilaku beragama yang perlu dikembangkan adalah sikap toleran, setara, saling menghormati, serta mau bekerja sama dengan kelompok yang berbeda.
Kementerian Agama sendiri menggunakan tiga dimensi utama dalam melihat kerukunan umat beragama, yakni toleransi, kesetaraan, dan kebersamaan. Ketiganya menjadi penting ketika masyarakat harus menghadapi persoalan bersama, termasuk bencana.
Karena itu, moderasi beragama dapat menjadi bagian dari kesiapsiagaan sosial. Masyarakat yang terbiasa hidup berdampingan, saling mengenal dan membangun kepercayaan akan lebih mudah bergerak bersama ketika menghadapi keadaan darurat.
DARI KEBENCANAAN MENUJU KETANGGUHAN BERSAMA
Bencana memang menghadirkan kehilangan dan ketidakpastian. Namun, pada saat yang sama, bencana juga dapat menjadi ruang untuk memperlihatkan nilai kemanusiaan.
Ketika warga dari berbagai latar belakang turun tangan membantu korban, ketika rumah ibadah menjadi ruang pelayanan kemanusiaan, dan ketika komunitas bergerak bersama tanpa mempertanyakan perbedaan identitas, di situlah moderasi beragama menemukan bentuk yang konkret.
Karena itu, membangun masyarakat yang tangguh bencana bukan hanya soal menyiapkan infrastruktur dan sistem peringatan dini. Ketangguhan juga dibangun melalui hubungan sosial yang kuat, kepercayaan, kepedulian, dan kemampuan bekerja sama.
BNPB bahkan menempatkan kolaborasi lintas sektor dan keterlibatan masyarakat sebagai bagian penting dalam pengurangan risiko bencana. Melalui dialog Beranda Astacita, pembahasan moderasi beragama dan kebencanaan mengingatkan bahwa dalam menghadapi bencana, yang perlu diperkuat bukan hanya kesiapan menghadapi ancaman, tetapi juga kesiapan untuk saling menolong.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....