Vape, Gaya atau Bahaya? Kenali Risikonya bagi Anak Muda
- 26 Agt 2026 11:22 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Pencegahan membutuhkan peran bersama keluarga, sekolah, lingkungan pertemanan, dan masyarakat.
- Vape bukan sekadar tren; kandungan nikotin dapat menimbulkan ketergantungan dan berisiko bagi kesehatan.
- Anak muda perlu memahami risiko vape agar rasa penasaran tidak berkembang menjadi kebiasaan.
RRI.CO.ID, Jakarta - Bentuknya ringkas, pilihan rasanya beragam, dan penggunaannya kerap dianggap sebagai bagian dari gaya hidup. Vape atau rokok elektrik kini semakin mudah ditemui, terutama di kalangan anak muda.
Namun, di balik kesan modern dan praktis tersebut, ada pertanyaan yang perlu dijawab: apakah vape benar-benar sekadar gaya atau justru menyimpan bahaya?
Pertanyaan itu menjadi pembahasan dalam program Beranda Asta Cita “Sanksi” RRI Pro 1 Jakarta, Rabu, 26 Agustus 2026, dengan tema “Vape, Gaya atau Bahaya?”. Program ini menghadirkan Ahmad Sulaiman, Penyuluh Narkoba Ahli Muda BNN Kota Jakarta Selatan, dipandu oleh Presenter Rouli Hutahaean.
Dalam siaran radio itu, Ahmad mengatakan, penggunaan vape sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai tren. Ada risiko yang perlu dipahami, terutama karena sebagian besar produk vape mengandung nikotin yang dapat menimbulkan ketergantungan.
“Jangan sampai vape hanya dipandang sebagai gaya hidup atau sesuatu yang keren. Anak muda perlu memahami bahwa ada risiko ketika tubuh terus-menerus terpapar nikotin,” ujar Ahmad.
Risiko tersebut bukan sekadar soal ketergantungan. WHO menyebut aerosol rokok elektronik dapat mengandung nikotin dan berbagai zat toksik. Penggunaan vape juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko gangguan pada paru-paru dan sistem kardiovaskular. Pada anak dan remaja, paparan nikotin dapat berdampak pada perkembangan otak dan meningkatkan risiko kecanduan.
“Banyak hal bisa dimulai dari rasa ingin tahu. Karena itu, pencegahan harus dilakukan sejak awal, sebelum rasa penasaran berubah menjadi kebiasaan dan akhirnya sulit dihentikan,” ujarnya.
Menurut Ahmad, persoalan vape juga perlu diperhatikan karena anak muda dapat melihatnya sebagai sesuatu yang lebih ringan dibandingkan rokok konvensional. Padahal, vape bukan berarti bebas risiko.
“Yang perlu kita ubah adalah cara pandang bahwa vape itu aman hanya karena tidak seperti rokok biasa. Masyarakat harus memahami kandungan dan dampaknya sebelum memutuskan untuk menggunakannya,” kata Achmad.
WHO juga menegaskan bahwa dampak jangka panjang penggunaan rokok elektronik masih terus dipelajari. Namun, bukti yang ada saat ini sudah menunjukkan bahwa vape menghasilkan zat berbahaya dan tidak dapat dianggap sebagai produk yang aman, terutama bagi anak-anak, remaja, ibu hamil, dan orang yang sebelumnya tidak merokok.
Ahmad menilai, edukasi menjadi salah satu kunci pencegahan. Informasi mengenai bahaya vape perlu disampaikan dengan bahasa yang dekat dengan generasi muda, sehingga mereka memahami risikonya dan tidak sekadar mengikuti tren.
“Anak muda harus diberikan informasi yang benar, bukan sekadar ditakut-takuti. Ketika mereka memahami risikonya, harapannya mereka bisa mengambil keputusan dengan lebih sadar,” ujar Ahmad.
Ia juga mengingatkan bahwa pencegahan tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak. Keluarga, sekolah, lingkungan pertemanan, serta masyarakat memiliki peran dalam membangun lingkungan yang mendukung gaya hidup sehat.
“Pencegahan bukan hanya tugas BNN. Keluarga, sekolah, lingkungan pertemanan, dan masyarakat semuanya punya peran,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....