Belajar Urban Farming, Siswa SMAN 44 Kenal Ketahanan Pangan
- 22 Agt 2026 15:18 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Siswa SMAN 44 Jakarta dikenalkan pada urban farming sebagai cara sederhana belajar bercocok tanam di tengah keterbatasan lahan perkotaan.
- Urban farming dapat menjadi media edukasi untuk mengenalkan ketahanan pangan, kepedulian lingkungan, dan kebiasaan hidup ramah lingkungan.
- Sigma Farming Academy mengembangkan Urban Sigma Farming agar kegiatan bertani tetap dapat dilakukan masyarakat perkotaan dengan memanfaatkan lahan terbatas
RRI.CO.ID, Jakarta - Menanam sayuran ternyata tidak harus menunggu punya lahan luas. Di tengah padatnya kehidupan perkotaan, halaman sekolah pun bisa menjadi ruang belajar untuk mengenal tanaman, pangan, dan lingkungan.
Semangat itu diangkat dalam program Beranda Astacita “Green Radio” RRI Pro 1 Jakarta, Sabtu, 22 Agustus 2026, melalui tema “Belajar Urban Farming Bersama Siswa SMAN 44 Jakarta”. Program ini menghadirkan Yohanes Pemand(i) Kristyanto, PIC Sigma Farming Academy (SFA) wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat Pusaka Indonesia.
Urban farming atau pertanian perkotaan menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan kegiatan bercocok tanam di tengah keterbatasan lahan. Kegiatan ini dapat dilakukan menggunakan pot, polybag, planter box, maupun wadah sederhana yang tersedia di sekitar rumah dan sekolah.
Bagi pelajar, urban farming bukan sekadar aktivitas menanam. Dari satu benih yang ditanam, mereka dapat belajar tentang proses tumbuh tanaman, merawat lingkungan, hingga memahami dari mana makanan yang dikonsumsi setiap hari berasal.
Konsep tersebut sejalan dengan pengembangan Urban Sigma Farming yang dilakukan Sigma Farming Academy. Pusaka Indonesia menjelaskan bahwa metode ini dikembangkan agar masyarakat perkotaan tetap dapat bertani meski memiliki lahan terbatas. Pemanfaatan pekarangan juga diarahkan untuk menghasilkan pangan sehat sekaligus membangun kebiasaan ramah lingkungan.
Bahkan, kegiatan berkebun dengan polybag dapat menjadi sarana sederhana untuk membangun ketahanan pangan keluarga. Tanaman seperti kangkung, bayam, cabai, tomat, selada hingga pakcoy dapat ditanam dalam wadah yang relatif sederhana.
Bagi siswa, pengalaman tersebut juga dapat menjadi pembelajaran yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mereka tidak hanya mendapatkan teori tentang lingkungan, tetapi melihat langsung bagaimana tanah, air, benih, dan perawatan berperan dalam menghasilkan pangan.
“Urban farming mengajarkan bahwa bertani tidak selalu membutuhkan lahan yang luas. Yang penting adalah bagaimana kita memanfaatkan ruang yang ada dan merawatnya secara konsisten,” menjadi salah satu pesan yang relevan dengan pengenalan pertanian perkotaan kepada generasi muda.
Sigma Farming Academy sendiri merupakan bagian dari Bidang Pendidikan dan Pemberdayaan Pusaka Indonesia yang mengembangkan metode pertanian selaras alam. Pendekatan Sigma Farming mengintegrasikan sejumlah praktik pertanian organik dan menekankan pemulihan tanah serta penggunaan bahan yang lebih ramah lingkungan.
Bagi Jakarta yang memiliki keterbatasan ruang terbuka, urban farming menawarkan cara sederhana untuk mendekatkan kembali masyarakat dengan kegiatan bercocok tanam. Sekolah dapat menjadi salah satu ruang strategis untuk mengenalkan kebiasaan tersebut kepada generasi muda.
Lebih jauh, pengalaman menanam juga dapat menumbuhkan kesadaran bahwa ketahanan pangan tidak hanya menjadi urusan pemerintah atau petani. Dari lingkungan sekolah dan rumah, anak-anak dapat mulai belajar mengambil bagian.
Satu pot, satu benih, dan satu kebiasaan merawat tanaman mungkin terlihat sederhana. Namun, dari situlah kepedulian terhadap pangan dan lingkungan bisa mulai tumbuh.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....