Menjadi Muslim yang Menenangkan, Bukan Meresahkan
- 19 Agt 2026 18:20 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Menjadi Muslim yang menenangkan tercermin dari sikap, ucapan, dan perilaku yang membawa rasa aman serta kebaikan bagi orang lain.
- Keberagamaan tidak hanya berkaitan dengan ibadah pribadi, tetapi juga bagaimana menghargai perbedaan, menjaga ucapan, dan membangun hubungan sosial yang harmonis.
- Masyarakat diajak menjadikan nilai-nilai Islam sebagai sumber kedamaian, kasih sayang, dan manfaat dalam kehidupan sehari-hari.
RRI.CO.ID,Jakarta: Menjadi seorang Muslim bukan hanya tentang bagaimana kita menjalankan ibadah, tetapi juga tentang bagaimana kehadiran kita membawa rasa aman, nyaman, dan kebaikan bagi orang-orang di sekitar.
Sebab, keberagamaan sejatinya tidak berhenti pada hubungan manusia dengan Tuhan. Ia juga tercermin dari cara seseorang berbicara, bersikap, memperlakukan orang lain, hingga merespons perbedaan dalam kehidupan sehari-hari.
Hal inilah yang akan dibahas dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Jakarta, Rabu (19/8/2026), melalui tema “Menjadi Muslim yang Menenangkan, Bukan Meresahkan”.
Program yang hadir pukul 05.00–06.00 WIB ini menghadirkan Rosa, S.Ag., M.Pd., Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Jakarta Timur sekaligus Ketua PW Pergerakan Majelis Taklim Indonesia DKI Jakarta.
Menjadi Muslim yang menenangkan bukan berarti harus selalu diam atau menghindari persoalan. Justru, ketenangan dapat terlihat dari kemampuan seseorang menghadapi persoalan dengan sikap yang bijak, tidak mudah menghakimi, dan tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling menjauh.
Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin beragam, sikap tersebut menjadi semakin penting. Perbedaan pilihan, pandangan, latar belakang, maupun cara memahami kehidupan merupakan bagian dari realitas sosial yang tidak dapat dihindari.
Karena itu, keberagamaan yang menenangkan dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Misalnya, menjaga ucapan agar tidak menyakiti, menghargai orang lain, tidak mudah menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya, serta mengedepankan dialog ketika menghadapi perbedaan.
Menjadi pribadi yang menenangkan juga berarti menghadirkan agama sebagai sumber kebaikan. Bukan membuat orang lain merasa takut, tertekan, atau merasa dirinya paling benar.
Melalui pembahasan ini, pendengar diajak kembali melihat bahwa nilai-nilai agama memiliki dimensi sosial yang kuat. Ibadah dan kesalehan tidak hanya tercermin dari apa yang dilakukan secara pribadi, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan oleh orang lain.
Pada akhirnya, pertanyaan sederhananya adalah: setelah berinteraksi dengan kita, apakah orang lain merasa lebih tenang atau justru semakin resah?
Pertanyaan tersebut menjadi refleksi penting bagi siapa saja yang ingin menghadirkan Islam sebagai agama yang membawa kedamaian, kasih sayang, dan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Jakarta bersama Rosa, S.Ag., M.Pd. dapat menjadi ruang bagi pendengar untuk menemukan kembali makna keberagamaan yang tidak hanya baik untuk diri sendiri, tetapi juga memberikan rasa nyaman bagi lingkungan sekitar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....