Melawan Tawuran dengan Urban Farming: Pemuda Rawa Malang Bangun Ketahanan Pangan

  • 16 Mei 2026 08:34 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA – Mengembangkan urban farming atau pertanian perkotaan di tengah pemukiman padat penduduk memiliki tantangan tersendiri. Namun, di Rawa Malang tantangan tersebut bukan sekadar masalah lahan, melainkan juga masalah keamanan dan sosial.

Seorang pemuda penggiat urban farming di Rorotan bernama Dwi Angga Mukti (26), ketua Kelompok Tani "Bangun Karya Mandiri", membagikan kisahnya dalam mengelola lahan pertanian di tengah bayang-bayang aksi tawuran antarwarga yang masih kerap terjadi. Baginya, bertani bukan hanya soal menanam, tapi juga upaya menyembuhkan trauma lingkungan.

Trauma dan Kerusakan Akibat Konflik

Selama ini, warga sekitar sering kali merasa trauma jika mendengar suara gaduh di malam hari. Suara teriakan dan keributan biasanya menjadi pertanda adanya serangan atau tawuran. Tak jarang, fasilitas urban farming yang telah dibangun dengan susah payah menjadi sasaran vandalisme.

"Warga di sini sudah trauma kalau ada suara ramai. Dampak serangannya bisa sampai merusak rumah-rumah warga, sering dilempari batu. Kami juga sering ditandai atau dipanggil-panggil oleh orang yang sebenarnya kami tidak kenal," ungkap Angga kepada RRI Jakarta, Jum'at 15 Mei 2026.

Kebutuhan Infrastruktur dan Teknologi

Untuk meningkatkan produktivitas hasil tani, ia mengaku masih membutuhkan dukungan sarana dan prasarana yang memadai. Fokus utamanya saat ini adalah kebutuhan listrik untuk sistem hidroponik.

"Listrik sangat krusial untuk sirkulasi air di hidroponik. Tanpa sirkulasi air yang baik, tanaman tidak bisa tumbuh maksimal. Apalagi sumber air tawar di sini terbatas, karena air waduk cenderung payau (asin) dan tidak cocok untuk menyiram tanaman," jelasnya.

Selain masalah teknis pertanian, ia juga berharap adanya peninggian tembok pembatas di sekitar area pertanian. Hal ini dirasa perlu untuk melindungi tanaman dan warga dari lemparan batu saat terjadi konflik antarwilayah di sekitar lokasi.

Visi Pembangunan Greenhouse Permanen

Saat ini, fasilitas pelindung tanaman masih menggunakan bahan seadanya seperti bambu dan jaring paranet. Kedepannya, ia bermimpi bisa membangun greenhouse yang lebih layak dengan menggunakan rangka kokoh dan atap plastik UV.

"Kami ingin punya greenhouse yang layak. Pakai plastik UV supaya matahari tidak terlalu panas menyengat dan tanaman tidak rusak saat hujan deras. Kemarin kami masih pakai bambu, kedepannya ingin yang lebih permanen," tambahnya.

Mengajak Generasi Muda Lewat 'Nongkrong'

Meski sempat mendapat penolakan dan rasa malas dari anak-anak muda di lingkungannya, ia tidak patah arang. Ia menggunakan pendekatan personal dengan mengajak mereka "nongkrong" terlebih dahulu sebelum perlahan-lahan memperkenalkan dunia pertanian.

"Awalnya memang ada penolakan, mereka malas-malasan. Tapi saya ajak nongkrong dulu, pelan-pelan diajak terlibat. Sekarang mereka mulai mau ikut serta menjaga dan mengelola lahan ini," tutupnya.

Melalui urban farming, diharapkan Rorotan tidak hanya dikenal sebagai wilayah yang produktif secara pangan, tetapi juga wilayah yang lebih damai dan harmonis bagi generasi mudanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....