Potret Perjuangan Perantau di Gerbang Dermaga Tanjung Priok

  • 29 Mar 2026 18:07 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA - Dermaga bukan sekadar tempat bersandarnya kapal. Bagi Deni (34) dan Dian (24), dermaga adalah pintu gerbang menuju mimpi yang lebih baik, sekaligus tempat di mana pelukan keluarga harus dilepaskan demi kepastian ekonomi.

Deni, pria asal Sukabumi, Jawa Barat, sudah tiga tahun terakhir "menanam" harapannya di tanah Batam. Bukan sebagai pekerja pabrik, melainkan sebagai petani. Baginya, angka-angka di pasar Batam jauh lebih ramah daripada di kampung halamannya.

"Di kampung, harga pisang dari petani itu paling Rp1.500 sampai Rp3.000 per kilo. Tapi di Batam, bisa tembus Rp6.000 sampai Rp7.000," ujar Deni kepada RRI Jakarta, Sabtu 28 Maret 2026.

Selisih harga inilah yang membuatnya betah mengolah lahan milik BP Batam di kawasan Barelang, meski ia harus berhadapan dengan kenyataan pahit: tidak ada subsidi pupuk di sana.

Namun, Deni adalah perantau yang realistis. Ia tak ingin menjual "janji manis" kepada teman-teman sekampungnya yang ingin ikut. Ia menceritakan apa adanya—tentang cangkul yang berat, pH tanah yang berbeda dengan tanah Jawa, hingga modal yang harus dikelola sendiri. "Netral saja, biar mereka enggak salah paham. Kerjanya ya mencangkul, menanam," tambahnya.

Di sudut lain dermaga, ada Dian. Pemuda 24 tahun asal Cilacap ini adalah wajah baru di dunia perantauan. Jika Deni sudah khatam dengan asam garam Batam, Dian baru akan memulai langkah pertamanya menuju Kalimantan Barat.

Meninggalkan pekerjaan sebagai buruh bangunan harian di Cilacap, Dian membawa beban yang lebih berat di pundaknya daripada sekadar tas pakaian: tanggung jawab pada ibu dan adiknya. "Buat bantu keluarga, apalagi adik baru lulus sekolah," ungkapnya lirih.

Bagi Dian, merantau ke luar Jawa adalah perjudian besar untuk mendapatkan "suasana baru" dan pendapatan yang lebih layak. Rasa takut itu ada, kerinduan pada rumah sudah mulai mengintip, namun kebutuhan ekonomi menjadi kompas yang mengarahkannya ke pulau seberang.

Kisah Deni dan Dian adalah potret besar migrasi pekerja mandiri di Indonesia. Mereka adalah bukti bahwa sektor pertanian dan sektor informal masih menjadi sandaran hidup yang menjanjikan, asalkan ada keberanian untuk menyeberangi lautan.

Suka dan duka menjadi bumbu wajib. Sukanya adalah saat panen berhasil dan uang bisa dikirim ke kampung. Dukanya? Saat kegagalan panen datang di saat modal sudah habis, atau saat rindu pada anak dan istri di rumah menjadi begitu menyiksa di tengah kesunyian kebun.

Saat kapal mulai membunyikan klaksonnya, para perantau ini kembali melangkah. Di saku mereka ada tiket kapal, dan di hati mereka ada doa agar suatu hari nanti, mereka bisa pulang tidak hanya membawa rindu, tetapi juga kesuksesan yang nyata.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....