Ini Alasan Kenapa Saat Balik Lebih Lelah Dari Pada Saat Mudik

  • 26 Mar 2026 17:35 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Arus balik Lebaran terasa lebih melelahkan karena kombinasi kepadatan lalu lintas, kelelahan fisik, dan tekanan psikologis pasca liburan.

RRI.CO.ID, Jakarta: Perjalanan mudik Lebaran selalu identik dengan semangat pulang kampung dan kebahagiaan bertemu keluarga. Namun, cerita yang berbeda kerap muncul saat arus balik, ketika perjalanan kembali justru terasa lebih berat dan melelahkan.

Banyak pemudik merasakan energi yang sudah terkuras sebelum perjalanan dimulai. Waktu istirahat yang terbatas, aktivitas silaturahmi yang padat, hingga perubahan pola tidur membuat kondisi fisik tidak lagi optimal.

Di jalan, situasi pun tidak selalu bersahabat. Kepadatan kendaraan yang meningkat dalam waktu bersamaan membuat perjalanan menjadi lebih panjang dan penuh tekanan.

Pakar transportasi Djoko Setijowarno menjelaskan bahwa arus balik memiliki karakter yang berbeda dibanding arus mudik. “Arus balik cenderung terkonsentrasi dalam waktu singkat, sehingga kepadatan terjadi secara bersamaan di banyak titik,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat pemudik lebih sering terjebak kemacetan panjang. Tidak hanya memperpanjang waktu tempuh, tetapi juga meningkatkan kelelahan selama perjalanan.

Selain faktor lalu lintas, aspek psikologis juga turut berperan. Perjalanan kembali sering kali dibarengi dengan perasaan harus kembali ke rutinitas dan tanggung jawab pekerjaan.

Psikolog dari Universitas Indonesia, Dian Wisnuwardhani, menyebut kondisi ini sebagai bagian dari tekanan emosional pasca liburan. “Perasaan harus kembali bekerja dapat memengaruhi suasana hati dan menambah rasa lelah selama perjalanan,” ujarnya.

Tidak sedikit pemudik yang merasa perjalanan pulang terasa lebih cepat dibandingkan perjalanan kembali. Padahal, secara jarak dan waktu tidak jauh berbeda.

Hal ini terjadi karena perbedaan persepsi emosional. Saat mudik, perjalanan dipenuhi antusiasme, sedangkan arus balik diwarnai rasa enggan dan tekanan mental.

Kondisi tersebut diperparah jika pemudik tetap memaksakan perjalanan tanpa perencanaan yang baik. Kurangnya waktu istirahat dan manajemen perjalanan membuat risiko kelelahan semakin tinggi.

Para ahli menyarankan agar pemudik lebih fleksibel dalam menentukan waktu kembali. Menghindari puncak arus balik serta menyediakan waktu istirahat yang cukup dapat membantu mengurangi tekanan perjalanan.

Selain itu, menjaga kondisi fisik sebelum berangkat juga menjadi hal yang penting. Asupan makanan, hidrasi, serta kualitas tidur perlu diperhatikan agar tubuh tetap prima.

Pada akhirnya, arus balik bukan sekadar perjalanan pulang ke kota, tetapi juga fase transisi dari suasana liburan menuju rutinitas. Dengan persiapan fisik dan mental yang baik, perjalanan ini dapat dilalui dengan lebih nyaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....