Pengorbanan Parahwono, Relakan Momen Lebaran di Balik Kemudi

  • 14 Mar 2026 09:51 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA – Momen Hari Raya Idul Fitri selalu identik dengan kehangatan berkumpul bersama keluarga di kampung halaman. Namun, kemewahan tersebut nyatanya tak bisa dirasakan oleh semua orang. Bagi Parahwono (53), seorang sopir bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP), jalanan adalah tempatnya menghabiskan malam takbiran demi mengantarkan ribuan orang bertemu keluarga mereka.

Pria asal Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, Jawa Tengah ini telah mendedikasikan lebih dari separuh hidupnya di balik kemudi. Menjadi pengemudi bus selama lebih dari 30 tahun—dengan rincian 18 tahun di bus pariwisata dan 8 tahun terakhir di PO Sinar Jaya—membuatnya kebal dengan rasa rindu menahan momen Lebaran di rumah.

"Sudah puluhan tahun jarang Lebaran di rumah. Tahun kemarin saja, cuma bisa kumpul sehari, sorenya sudah harus berangkat lagi. Kalau penumpang lagi ramai, pagi sampai di Tanjung Priok, langsung putar balik tolak (berangkat lagi) ke arah Timur," ungkap Parahwono saat ditemui RRI Jakarta di Terminal Tanjung Priok, Kamis 12 Maret 2026.

Sehari-hari, Parahwono melayani rute Terminal Tanjung Priok (Jakarta) menuju Kendal (Jawa Tengah), dengan waktu tempuh normal 8 hingga 9 jam.

Meski harus menahan lelah dan rasa kantuk yang menjadi musuh utama di jalan, Parahwono mengaku ikhlas. Motivasi terbesarnya adalah keluarga, terutama masa depan kelima anaknya.

Ia bercerita dengan bangga bahwa jerih payahnya di jalanan membuahkan hasil. Dua anaknya yang pertama telah mandiri dan berkeluarga. Sementara anak ketiga dan keempatnya kini sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi dan bangku SMA di sebuah Pondok Pesantren di Yogyakarta.

"Saya kerja murni buat keluarga, makanya saya jalani dengan ikhlas dan sabar. Istri saya di rumah juga luar biasa, beliau Hafidz Al-Quran, lulusan sarjana Cumlaude, dan rajin Puasa Daud. Doa dari rumah itu yang menguatkan saya," tutur ayah yang masih memiliki anak bungsu berusia 4,5 tahun ini.

Sebagai sopir bus reguler, Parahwono mengantongi penghasilan rata-rata Rp 5 juta per bulan, di luar tambahan insentif. Sistem gajinya mengandalkan "uang jalan", di mana konsumsi bahan bakar (solar) sudah ditargetkan oleh perusahaan. Oleh karena itu, ia harus pandai menjaga kecepatan rata-rata di angka 80 km/jam agar bahan bakar tidak boros yang berimbas pada pemotongan pendapatannya.

Selain itu, keselamatan penumpang tetap menjadi prioritas. Sebelum berangkat, Parahwono dan rekan-rekannya diwajibkan menjalani tes kesehatan ketat, meliputi cek gula darah, tekanan darah, hingga tes urine.

Di balik dedikasinya yang tinggi, Parahwono menyimpan satu keluh kesah yang mewakili banyak sopir bus reguler lainnya, yakni maraknya program 'Mudik Gratis' yang diselenggarakan oleh berbagai instansi.

Menurutnya, niat baik penyelenggara mudik gratis justru menjadi pukulan telak bagi periuk nasi sopir angkutan reguler.

"Harapan saya untuk pemerintah, tolong dibatasi program mudik gratisnya. Penumpang bus reguler jadi sepi banget. Kemarin saja dari Kendari (Kendal/daerah timur) kosong, tidak ada penumpang. Akhirnya mau tidak mau saya harus menginap di terminal sampai besok sorenya nunggu ada penumpang baru bisa jalan," keluhnya.

Bagi Parahwono dan ribuan sopir bus lainnya, musim mudik Lebaran seharusnya menjadi momen "panen" rezeki untuk dibawa pulang. Ia berharap pemerintah dapat mencari jalan tengah agar niat membantu masyarakat lewat mudik gratis tidak mematikan mata pencaharian para pejuang jalanan seperti dirinya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....