Siloam Kembangkan Neuroscience Selama Tiga Dekade di Indonesia
- 19 Sep 2026 15:46 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Siloam Hospitals Lippo Village telah mengembangkan layanan neuroscience di Indonesia selama tiga dekade. Perjalanan tersebut dimulai pada 1996 dengan berdirinya Neuroscience Centre yang turut dirintis oleh Prof. Eka Julianta Wahjoepramono.
Siloam Hospitals Lippo Village menjadi pusat rujukan neuroscience untuk menangani berbagai kasus neurologis dan bedah saraf kompleks. Menangani lebih dari 20.000 kasus neuroscience dengan dukungan 16 dokter spesialis saraf dan 10 dokter spesialis bedah saraf.
Layanannya meliputi neurointervensi, rehabilitasi saraf, neuro-onkologi, neurorestorasi, Memory dan Aging Clinic, Pain Management, hingga Deep Brain Stimulation (DBS). Siloam Hospitals Lippo Village mengembangkan prosedur kompleks seperti awake brain surgery yang telah dilakukan selama hampir dua dekade.
Prosedur tersebut, pasien tetap sadar pada tahap tertentu agar tim medis dapat memantau fungsi saraf selama operasi. Penguatan layanan neuroscience penting bagi kebutuhan masyarakat, terutama karena stroke menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia.
Dalam penanganan stroke, kecepatan diagnosis, koordinasi multidisiplin, dan protokol klinis terstandar menjadi faktor penting dalam pelayanan. Siloam Hospitals Lippo Village menerapkan stroke pathway terintegrasi dengan dukungan diagnostik dan intervensi tingkat lanjut.
Pendekatan tersebut mencakup penanganan pasien mulai dari diagnosis, intervensi, hingga pemulihan. Siloam Hospitals Lippo Village menjadi rumah sakit pertama yang meraih CCPC dari JCI untuk Acute Ischemic Stroke Program.
Memperingati 30 tahun Neuroscience Centre, Siloam menyelenggarakan The 2nd Siloam Neuroscience Summit 2026. Bertemakan “Beyond Boundaries: Unlocking a New Era of Neuroscience”, juga mempertemukan praktisi, akademisi, dan tenaga kesehatan.
CEO Siloam International Hospitals, Caroline Riady, mengatakan pengembangan neuroscience didorong melalui investasi teknologi, inovasi, pendidikan, penelitian, dan kolaborasi. Berbagai teknologi, seperti AI, neuromodulasi, dan advanced imaging, diharapkan dapat meningkatkan diagnosis dan penanganan penyakit saraf.
Prof. Yusak Mangara Tua Siahaan mengatakan masa depan neuroscience membutuhkan kolaborasi lintas disiplin dan pertukaran pengetahuan yang terbuka. "Tema “Beyond Boundaries” mencerminkan upaya menghubungkan berbagai keahlian, teknologi, dan perspektif dalam layanan neuroscience," ujar Prof. Yusak Mangara Tua Siahaan saat di temui awak media dalam acara Press Conference The 2nd Siloam Neuroscience Summit 2026, Sabtu, 19 September 2026.
Kolaborasi tersebut dinilai dapat mempercepat penerapan berbagai inovasi dalam praktik klinis. Perkembangan neuroscience juga diharapkan mampu menghadirkan layanan yang lebih tepat, aman, dan efektif bagi pasien.
Sementara itu, Prof. Julius July menekankan bahwa perkembangan teknologi harus memberikan manfaat nyata bagi pasien. "Kemajuan teknologi dan ilmu kedokteran perlu diterapkan untuk meningkatkan ketepatan, keamanan, dan hasil pelayanan," ujar Prof. Julius July saat ditemui awak media dalam acara Press Conference The 2nd Siloam Neuroscience Summit 2026, Sabtu, 19 September 2026.
Perkembangan ilmu, teknik bedah, teknologi, dan kolaborasi multidisiplin telah mengubah penanganan berbagai kasus neurologis dalam 30 tahun terakhir Memasuki dekade keempat, Siloam Hospitals Lippo Village akan terus mengintegrasikan keahlian medis, teknologi, pendidikan, penelitian, dan kolaborasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....