Gemini Dorong Kreativitas Fesyen Indonesia Tembus Pasar Global

  • 03 Sep 2026 13:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Indonesia masuk lima besar negara pengguna Gemini terbanyak di dunia.
  • 32 persen penggunaan Gemini di Indonesia berkaitan dengan kreativitas, seperti membuat gambar, musik, dan video.
  • Gemini membantu desainer dalam riset, pengembangan ide, eksplorasi budaya, dan pengolahan arsip kreatif.

RRI.CO.ID, Jakarta - Penggunaan kecerdasan artifisial (AI) semakin berkembang di Indonesia, termasuk dalam industri kreatif dan fesyen. Google menyebut Indonesia kini masuk lima besar negara dengan jumlah pengguna Gemini terbanyak di dunia.

Head Marketing Google Southeast Asia, Mira Sumanti, mengatakan tingginya penggunaan Gemini di Indonesia menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap teknologi AI. Khususnya, untuk kebutuhan yang personal, mobile, dan kreatif.

"Indonesia saat ini sudah masuk Top Five negara pengguna Gemini di seluruh dunia," kata Mira dalam Press Briefing "Mind, Thread, Vision – With Gemini, In Craft" di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis, 3 September 2026.

Menurut Mira, sekitar 32 persen penggunaan Gemini di Indonesia berkaitan dengan kebutuhan kreativitas, mulai dari membuat musik, gambar hingga video. Bahkan, masyarakat Indonesia disebut menghasilkan sekitar sembilan juta gambar melalui Gemini setiap hari.

"Penggunaan Gemini di Indonesia sangat multimodal. Sebanyak 82 persen penggunaannya melalui HP, dan satu dari dua prompt yang masuk ke Gemini itu multimodal, tidak hanya teks tetapi juga gambar dan video," ujarnya.

Dorong Eksplorasi Industri Fesyen

Mira mengatakan Google melalui proyek Gemini in Craft mengeksplorasi pemanfaatan AI untuk membantu pekerja kreatif, khususnya di industri fesyen, mengembangkan ide dan proses kreatif yang sebelumnya sulit dilakukan. Proyek tersebut melibatkan tiga fashion voices Indonesia, yakni Agus Susastro, Stella Rissa, serta Andy Tan dan Jerome dari Two Stitches.

Mira menegaskan proyek itu bukan untuk menggantikan kreativitas desainer, melainkan mengeksplorasi bagaimana AI dapat membantu manusia mengembangkan potensinya.

"Kami percaya AI yang paling penting adalah intensi orang-orang di baliknya. Human is at the center, dan AI atau Gemini digunakan untuk mengembangkan potensi kreativitas manusia," katanya.

Bantu Riset dan Eksplorasi Budaya

Dalam proyek tersebut, Agus Susastro memanfaatkan Gemini untuk mendukung proses riset sebelum menghasilkan desain. Berbagai arsip, hasil wawancara, foto, buku dan sumber lainnya dapat dikumpulkan dalam Gemini Notebook.

Dari kumpulan sumber tersebut, Gemini dapat membantu melakukan sintesis informasi, membuat mind map, hingga menemukan persamaan dan perbedaan dari berbagai latar budaya. Salah satu eksplorasi yang dilakukan adalah menggabungkan unsur budaya Jawa dan Latvia dalam sebuah proyek desain.

Gemini juga digunakan melalui fitur Deep Research untuk membantu melakukan pengecekan terhadap aspek budaya sebelum desain dikembangkan lebih lanjut. Hasil riset tersebut kemudian dapat disusun menjadi creative dossier yang dilengkapi sumber dan bibliografi untuk menjelaskan dasar pengembangan sebuah desain kepada klien.

Namun, Mira menekankan bahwa keputusan kreatif tetap berada di tangan desainer. "Cita rasa atau taste itu nggak bisa di-prompt. Taste itu an acquired taste from a living experience of a human. AI atau Gemini adalah mesin sintesis, tetapi human living experience tidak bisa digantikan," ujarnya.

Kembangkan Identitas Fesyen ke Format Digital

Sementara itu, Stella Rissa memanfaatkan Gemini untuk mengembangkan identitas dan aset kreatif yang dimilikinya ke dalam berbagai format digital. Salah satunya melalui karakter Starlet, ilustrasi dua dimensi yang menjadi representasi perempuan dalam dunia desain Stella Rissa.

Dengan bantuan Gemini, karakter tersebut dapat dikembangkan menjadi berbagai visual, termasuk mengenakan busana yang telah dirancang untuk kebutuhan runway. Karakter tersebut juga dapat ditempatkan dalam berbagai situasi untuk kebutuhan storytelling, storyboard, hingga konten digital.

Menurut Mira, pendekatan tersebut memungkinkan sebuah identitas kreatif berkembang ke berbagai format tanpa kehilangan DNA merek. "Dunianya berkembang, tetapi DNA-nya tetap sama," katanya.

Kurangi Sampling dan Waste

Pemanfaatan Gemini juga berpotensi membantu industri fesyen mengurangi pembuatan sampel fisik secara berlebihan. Desainer dapat menggunakan foto master sample untuk membuat simulasi berbagai perspektif, warna dan material sebelum menentukan sampel fisik yang benar-benar diperlukan.

Perubahan material, misalnya dari denim menjadi satin, maupun perubahan warna dapat divisualisasikan terlebih dahulu untuk melihat karakter desain sebelum masuk ke tahap produksi. Proses tersebut memungkinkan tim menentukan alternatif desain yang paling sesuai tanpa harus membuat seluruh variasi menjadi sampel fisik.

Selain menekan biaya dan waktu, pendekatan ini berpotensi mengurangi waste dari proses produksi sampel. Visualisasi tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk berkomunikasi dengan calon pembeli atau buyer internasional.

"Buyer dapat melihat rancangan, material, warna hingga simulasi produk sebelum menentukan pesanan," kata Andy Tan menambahkan.

Dengan demikian, produksi dapat dilakukan berdasarkan kebutuhan dan SKU yang telah ditentukan sehingga mengurangi potensi excess production. Pemanfaatan AI tersebut menunjukkan Gemini tidak hanya digunakan sebagai alat untuk menghasilkan gambar atau video, tetapi juga dapat menjadi bagian dari proses riset, pengembangan desain, komunikasi dengan buyer hingga pengambilan keputusan bisnis.

Bagi industri fesyen Indonesia, teknologi ini membuka peluang untuk mempercepat proses kreatif, dan mengurangi waste. Sekaligus, membantu pelaku industri mempersiapkan produk untuk menjangkau pasar global.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....