President University Perkuat Pemantauan Lingkungan Berbasis AI
- 19 Sep 2026 08:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Dunia industri didorong memanfaatkan kecerdasan buatan atau AI dan drone untuk memperkuat pemantauan lingkungan. Teknologi tersebut dapat membantu menghasilkan data yang lebih luas, terukur, dan mendukung pelaporan keberlanjutan.
Dorongan itu muncul melalui kolaborasi President University, University of Southern Queensland, dan Jababeka. Kolaborasi tersebut didukung hibah kerja sama Indonesia-Australia sekitar 42 ribu dolar Australia dari Pemerintah Australia.
Program berlangsung Juli hingga September 2026 dengan mempertemukan perguruan tinggi, teknologi, dan dunia industri. Salah satu kegiatannya berupa workshop mengenai pelaporan keberlanjutan dan pemanfaatan teknologi pada 3 September 2026.
Workshop membahas perkembangan standar pelaporan keberlanjutan di Indonesia, termasuk PSPK 1 dan PSPK 2. Standar tersebut mengadopsi IFRS S1 dan IFRS S2 serta mulai wajib digunakan pada 2027.
Prof. Syed Shams dari University of Southern Queensland menekankan pentingnya keterbukaan informasi lingkungan bagi dunia usaha. Menurutnya, pengungkapan keberlanjutan yang kredibel berkaitan dengan nilai perusahaan dan biaya pendanaan.
“Pengungkapan lingkungan dan keberlanjutan yang kredibel berkaitan dengan nilai perusahaan lebih tinggi. Hal itu juga berkaitan dengan biaya pendanaan lebih rendah,” kata Prof. Syed dalam keterangan tertulis, Sabtu, 19 September 2026.
Pemanfaatan teknologi juga dinilai dapat membantu industri memahami perubahan kondisi lingkungan di sekitar wilayah operasional. Informasi tersebut dibutuhkan untuk mengidentifikasi risiko terhadap pekerja, operasional, kepatuhan, dan keberlangsungan bisnis.
Drone berukuran kecil dapat membawa sensor gas dan partikulat untuk mengambil sampel udara di berbagai lokasi. Teknologi tersebut juga memungkinkan pemantauan emisi, sebaran polutan, kualitas udara, serta area yang sulit dijangkau.
Berbeda dengan stasiun pemantauan tetap, drone dapat bergerak melintasi berbagai lokasi dan ketinggian. Data yang dikumpulkan kemudian dapat dianalisis menggunakan AI untuk mengidentifikasi pola perubahan kondisi lingkungan.
Prof. Zahra Gharineiat dari University of Southern Queensland mengatakan, data terukur dapat menjadi dasar tindakan pengelolaan lingkungan. Data yang dikumpulkan berulang juga membantu perusahaan mempertanggungjawabkan kondisi lingkungan secara lebih objektif.
“Data yang terukur dan dapat dilakukan secara berulang mengubah anggapan kualitas udara baik. Informasi tersebut dapat digunakan untuk mengambil tindakan dan mempertanggungjawabkan pengelolaan lingkungan,” ujarnya.
Ketua Program Studi Akuntansi President University Supeni Mapuasari mengatakan, perubahan iklim dapat memengaruhi kondisi keuangan perusahaan. Dampaknya dapat muncul melalui risiko terhadap operasi, aset, investasi, hingga arus kas.
“Data lingkungan yang terukur penting agar perusahaan memahami risiko dan mengambil keputusan yang tepat. Data tersebut juga dapat dihubungkan dengan pelaporan keberlanjutan,” kata Supeni.
Kepala Kepatuhan Regulasi Kawasan PT Jababeka Infrastruktur Istringani menyoroti pentingnya kepatuhan terhadap ketentuan lingkungan. Pemanfaatan AI dan drone dapat mendukung ketersediaan data sebagai dasar pengelolaan lingkungan.
Kolaborasi tersebut juga melibatkan mahasiswa melalui International Young Essay Competition. Kegiatan itu diikuti lebih dari 200 tim dari 14 negara dan dilanjutkan workshop serta pengumuman pemenang pada 4 September 2026.
Program tersebut memperkenalkan mahasiswa pada teknologi dan praktik keberlanjutan yang dibutuhkan dunia kerja. Kegiatan ini sekaligus membuka wawasan mengenai keahlian baru sebelum mahasiswa memasuki dunia profesional.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....