BRIN-CASS Dorong Kolaborasi Riset untuk Pembangunan Berkelanjutan
- 20 Agt 2026 10:13 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Hubungan kedua negara berkembang mencakup perdagangan, investasi, riset, pendidikan, teknologi, dan pembangunan berkelanjutan
- BRIN menilai pertukaran pengetahuan perlu dikembangkan menjadi kolaborasi riset yang lebih konkret
- Selain itu, kolaborasi diharapkan memperkuat kontribusi lembaga riset dalam hubungan Indonesia dan Tiongkok
RRI.CO.ID, Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Chinese Academy of Social Sciences (CASS) mendorong penguatan kolaborasi riset dalam sebuah dialog akademik. Kerja sama tersebut diarahkan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan serta memperkuat pembelajaran kebijakan Indonesia dan Tiongkok.
Plt. Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora BRIN, Muhammad Najib Azca, mengatakan dialog akademik memiliki arti strategis. Forum tersebut membuka ruang pembelajaran atas pengalaman pembangunan kedua negara di tengah perubahan global.
“Dialog akademik menjadi penting untuk melihat bukan hanya perbedaan konteks pembangunan Indonesia dan Tiongkok,” kata Najib dikutip dalam laman brin.go.id, Kamis, 20 Agustus 2026. Menurutnya, terdapat ruang pembelajaran dan kerja sama yang dapat memberikan manfaat bagi kedua negara.
Najib mengatakan forum tersebut berlangsung dalam momentum 76 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Tiongkok. Hubungan kedua negara berkembang mencakup perdagangan, investasi, riset, pendidikan, teknologi, dan pembangunan berkelanjutan.
Simposium mempertemukan peneliti, akademisi, pembuat kebijakan, lembaga riset, serta pemangku kepentingan dari kedua negara. Pertemuan tersebut membahas peluang pembelajaran kebijakan dan penguatan kerja sama bilateral.
Pembahasan simposium terbagi dalam dua sesi utama yang mengangkat isu pembangunan berkelanjutan. Sesi pertama membahas transisi hijau dan kerja sama pembangunan berkelanjutan dari perspektif Indonesia dan Tiongkok.
Menurut BRIN, transisi hijau tidak hanya berkaitan dengan perubahan teknologi energi. Isu tersebut juga memiliki dimensi sosial, ekonomi, lingkungan, serta keberlanjutan penghidupan masyarakat.
Sesi kedua membahas New-Quality Productive Forces dan kerja sama dalam membangun Belt and Road. Pembahasan mencakup transformasi ekonomi, perkembangan kekuatan produktif baru, serta peluang konektivitas kedua negara.
Simposium tersebut dibuka Muhammad Najib Azca dan Director Institute of Ecological Civilization CASS, Zhang Yongsheng. Kegiatan turut menghadirkan sejumlah peneliti dari CASS dan BRIN.
Dari CASS hadir Zhang Yongsheng, Li Dawei, Li Pengfei, dan Xu Liping. Sementara BRIN menghadirkan Maxensius T. Sambodo, M. Haripin, Irine H. Gayatri, dan Dini Suryani.
BRIN menilai pertukaran pengetahuan perlu dikembangkan menjadi kolaborasi riset yang lebih konkret. Kerja sama tersebut diharapkan menjawab kebutuhan dan tantangan pembangunan kedua negara.
Najib mengatakan forum tersebut diharapkan menghasilkan perspektif baru mengenai kerja sama yang inovatif dan inklusif. Selain itu, kolaborasi diharapkan memperkuat kontribusi lembaga riset dalam hubungan Indonesia dan Tiongkok.
“Harapannya, forum ini dapat menghasilkan perspektif baru. Terutama, mengenai peluang kerja sama yang lebih inovatif, inklusif, dan berkelanjutan,” pungkas Najib.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....