BRIN Manfaatkan Teknologi Nuklir, Telusuri Asal dan Umur Air Tanah

  • 01 Sep 2026 22:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memanfaatkan teknologi nuklir untuk menelusuri asal-usul, jalur aliran, waktu tempuh, hingga daerah imbuhan (recharge area) sumber daya air. Pemanfaatan isotop dan radioisotop sebagai penanda (tracer) memungkinkan peneliti melacak perjalanan air yang tidak dapat diamati secara langsung di bawah permukaan tanah.

Kepala Pusat Riset Akselerator, Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) BRIN, Muhammad Rifai, menjelaskan bahwa teknologi nuklir memiliki peran penting dalam pengelolaan sumber daya air. Menurutnya, air menyimpan jejak perjalanan hidrologinya yang dapat ditelusuri melalui analisis isotop tertentu.

“Perlu dipahami bahwa teknologi nuklir tidak hanya berkaitan dengan energi. Teknologi ini juga memiliki peran penting dalam pengelolaan sumber daya air melalui pemanfaatan isotop dan radioisotop sebagai penanda (tracer) alami maupun buatan,” ujar Rifai dalam kegiatan BRIN Goes to Industry 6 bertajuk “Hilirisasi Riset dan Inovasi Menuju Kemandirian Teknologi dan Ketahanan Air Nasional” di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Sarwono Prawirohardjo BRIN, Jakarta, Kamis, 27 Agustus 2026.

Rifai mengatakan, beberapa isotop yang digunakan untuk penelusuran sumber daya air antara lain oksigen-18 (¹⁸O), deuterium (²H), dan karbon-14 (¹⁴C). Analisis isotop tersebut dapat digunakan untuk menentukan asal air, hubungan antara air hujan, mata air, air tanah, dan air permukaan, sekaligus memahami dinamika sistem hidrologi suatu wilayah.

“Air menyimpan jejak perjalanan hidrologinya. Dengan memanfaatkan isotop tertentu, para peneliti dapat melacak asal-usul air, jalur alirannya, waktu tempuhnya, hingga mengetahui lokasi daerah imbuhan (recharge area),” ia menjelaskan.

Teknologi isotop juga dapat digunakan untuk menentukan umur air tanah. Dengan memanfaatkan ¹⁴C dan fasilitas Accelerator Mass Spectrometry (AMS), peneliti dapat mengetahui berapa lama air tersimpan di dalam akuifer sebelum dimanfaatkan manusia.

Kajian mengenai umur air tanah tersebut telah dilakukan di berbagai wilayah, termasuk Jakarta. Informasi mengenai umur air tanah diperlukan untuk memahami kondisi dan keberlanjutan cadangan air tanah.

Selain menelusuri asal dan umur air tanah, teknologi isotop memiliki sejumlah pemanfaatan lain dalam pengelolaan sumber daya air dan lingkungan. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk mendeteksi kebocoran bendungan, menelusuri konektivitas sungai bawah tanah, serta mengkaji sistem panas bumi dan reservoir.

Teknologi nuklir juga dimanfaatkan untuk memetakan sumber air menggunakan gas radon. Selain itu, pendekatan berbasis teknologi isotop digunakan untuk menelusuri pencemaran mikroplastik di lingkungan perairan.

Menurut Rifai, berbagai penelitian tersebut telah dilakukan BRIN bersama kementerian, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan mitra industri. Kolaborasi lintas disiplin diperlukan untuk menghasilkan data yang lebih komprehensif dalam mendukung pengelolaan sumber daya air nasional.

“Ke depan, BRIN merekomendasikan penguatan kajian terpadu yang menggabungkan pendekatan hidrologi, geologi, geofisika, isotop, dan teknologi nuklir untuk mendukung sistem pemantauan nasional sumber daya air, konservasi, serta mitigasi berbagai risiko lingkungan,” ujarnya. (rsa/dok; smd/ed. mfs)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....