BRIN Ubah Kebiasaan Petani Lewat Pupuk Slow Release
- 12 Agt 2026 07:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- BRIN mengembangkan teknologi Slow Release Fertilizer (SRF) untuk mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia.
- Teknologi SRF dipadukan dengan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas budidaya padi.
- Demplot teknologi SRF telah dikembangkan di Desa Sidowayah, Klaten, dengan bimbingan peneliti pendamping BRIN.
RRI.CO.ID, Klaten - BRIN mendorong petani mengurangi penggunaan pupuk kimia melalui teknologi Slow Release Fertilizer (SRF). Teknologi tersebut dipadukan dengan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) untuk meningkatkan efisiensi budidaya padi.
Peneliti Pendamping Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Agus Supriyo, mengatakan SRF dikembangkan melalui demplot di Desa Sidowayah, Klaten. Menurutnya, teknologi tersebut tidak hanya bertujuan menjaga produktivitas padi.
Pengembangan SRF juga diarahkan untuk mengubah kebiasaan petani yang menggunakan pupuk kimia secara berlebihan. “Formula B dirancang untuk meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara oleh tanaman sekaligus membantu memperbaiki sifat fisik, kimia, dan rizosfer tanah,” kata Agus, Senin 10 Agustus 2026 lalu.
Karakter slow release membuat unsur hara dilepaskan secara bertahap sehingga dapat diserap tanaman lebih efisien. Dengan demikian, produktivitas padi diharapkan tetap terjaga tanpa meningkatkan dosis pupuk kimia.
Ketua Gapoktan Desa Sidowayah, Jaenuri, mengakui penggunaan pupuk berlebih masih menjadi kebiasaan sebagian petani. “Kalau tidak dipupuk yang banyak, maka tanaman padi tidak mau berbunga,” ujarnya.
Sebagian petani juga masih menjadikan warna hijau daun sebagai indikator utama kesuburan tanaman. Kondisi tersebut membuat penambahan pupuk dilakukan tanpa sepenuhnya mempertimbangkan kebutuhan tanaman.
Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN, Gutomo Bayu Aji, mengatakan pendampingan diperlukan untuk mengubah perilaku petani. Menurutnya, pengembangan SRF tidak hanya mengejar peningkatan hasil panen.
“Pupuk SRF bukan hanya mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia dan pembenah tanah, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam menurunkan emisi karbon dari sektor nitrogen pertanian,” ujar Gutomo. Program tersebut kini memasuki tahap kedua melalui Demplot II seluas 3.200 meter persegi.
Sebelumnya, BRIN menerapkan Demplot I pada lahan seluas 3.300 meter persegi. Pada Demplot II, petani dilatih membuat SRF Formula B menggunakan Urea, SP36, dan Kalium dalam jumlah lebih sedikit.
Bahan tersebut dienkapsulasi dengan arang tempurung kelapa, arang sekam, bahan organik, dan zeolit. Selain pemupukan, BRIN menerapkan PHT untuk menghadapi peningkatan Wereng Batang Coklat (WBC).
Peneliti Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Arlina B. Puspita, mengatakan pengendalian WBC perlu dilakukan sejak dini. Strateginya mencakup penggunaan varietas tahan wereng, pemantauan hama, dan penerapan tanam serentak.
Varietas yang digunakan antara lain Inpari 32 WBC dan Bioni 63. BRIN juga mendorong pengembangan SRF menjadi model usaha berbasis koperasi bersama Gapoktan.
Langkah tersebut diharapkan membuat inovasi SRF tidak berhenti sebagai teknologi demplot. Petani nantinya berpeluang memproduksi dan mengembangkan SRF untuk kebutuhan budidaya secara lebih luas.
Melalui kolaborasi tersebut, BRIN menargetkan riset pertanian memberi manfaat langsung bagi petani. Manfaat itu mencakup efisiensi pupuk, pengendalian hama, peningkatan produktivitas, dan pengembangan usaha petani.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....