BRIN Kembangkan Sistem AI untuk Bantu Dokter Tentukan Prioritas Pasien IGD
- 07 Agt 2026 00:31 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- BRIN melalui Pusat Riset Sains Data dan Informasi (PRSDI) mengembangkan Sistem Pendukung Keputusan Triase berbasis Large Language Model untuk meningkatkan efisiensi penanganan pasien gawat darurat.
- Triase merupakan tahapan awal yang sangat menentukan dalam pelayanan kegawatdaruratan untuk menentukan prioritas penanganan pasien berdasarkan tingkat kegawatannya.
- Pemanfaatan kecerdasan artifisial dalam layanan kesehatan terus berkembang sebagai teknologi pendukung di berbagai bidang termasuk instalasi gawat darurat.
RRI.CO.ID, Jakarta - Pemanfaatan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) terus berkembang sebagai teknologi pendukung di berbagai bidang, termasuk layanan kesehatan. Salah satu penerapannya adalah pada proses triase di instalasi gawat darurat (IGD), yang berperan penting dalam menentukan prioritas penanganan pasien berdasarkan tingkat kegawatannya.
Periset Pusat Riset Sains Data dan Informasi (PRSDI) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nuraisa, memaparkan hasil penelitiannya terkait pengembangan Sistem Pendukung Keputusan Triase berbasis Large Language Model (LLM) sebagai sistem pendukung keputusan (decision support system) dalam proses triase di IGD. Nuraisa menjelaskan proses triase merupakan tahapan awal yang sangat menentukan dalam pelayanan kegawatdaruratan.
Ketepatan klasifikasi tingkat kegawatan pasien berpengaruh terhadap prioritas penanganan. Sehingga, diperlukan dukungan teknologi yang mampu membantu tenaga kesehatan melakukan penilaian secara lebih konsisten dan efisien.
“Sistem yang kami kembangkan dirancang sebagai alat bantu bagi tenaga kesehatan dalam melakukan proses screening triase berdasarkan standar Australasian Triage Scale (ATS). Rekomendasi yang dihasilkan bukan merupakan keputusan akhir, melainkan referensi yang tetap harus divalidasi oleh dokter atau petugas kesehatan,” jelasnya, dalam kegiatan Pekanan Internal PRSDI BRIN, Rabu, 29 Juli 2026.
Aplikasi tersebut dikembangkan menggunakan model Qwen3-32B yang telah melalui proses fine-tuning menggunakan dataset kasus triase. Sistem memanfaatkan informasi klinis pasien, seperti keluhan utama, riwayat penyakit, tanda vital, dan hasil pemeriksaan awal untuk menghasilkan rekomendasi kategori triase sesuai standar ATS.
Sebagai bagian dari upaya menjaga keselamatan pasien, penelitian ini mengintegrasikan mekanisme guard rail yang dirancang untuk meminimalkan potensi terjadinya undertriage, yaitu kondisi ketika tingkat kegawatan pasien dinilai lebih rendah dari kondisi sebenarnya. Mekanisme tersebut berfungsi sebagai lapisan pengamanan tambahan agar rekomendasi yang dihasilkan tetap berada dalam koridor keselamatan pasien dan mendukung prinsip kehati-hatian dalam proses pengambilan keputusan klinis.
Nuraisa menyatakan, pengembangan sistem masih terus dilakukan melalui perluasan dan kurasi dataset, validasi klinis bersama dokter dan tenaga kesehatan, penyempurnaan mekanisme guard rail, serta penguatan aspek keamanan data dan keandalan sistem sebelum teknologi dapat diimplementasikan secara lebih luas. “Kolaborasi dengan tenaga kesehatan menjadi faktor penting agar sistem yang dikembangkan tidak hanya memiliki performa teknis yang baik, tetapi juga sesuai dengan kebutuhan pelayanan dan praktik klinis di lapangan,” ujarnya.
Hingga saat ini, penelitian Sistem Pendukung Keputusan Triase ini telah menghasilkan dua purwarupa perangkat lunak, satu artikel prosiding yang telah diterima, satu artikel jurnal yang sedang dalam proses review. Serta dataset triase yang masih terus dikurasi sebagai bagian dari pengembangan sistem.(ds/ed:kg, tnt)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....