Inilah Alasan CEO Telegram Masuk Daftar Buronan Internasional Rusia

  • 31 Jul 2026 11:32 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Rusia menetapkan CEO Telegram Pavel Durov sebagai buronan internasional setelah FSB mendakwanya memfasilitasi aktivitas terorisme melalui platform Telegram.
  • FSB menuduh Telegram gagal menghapus kanal, grup, dan bot yang diklaim digunakan untuk sabotase, serangan teror, perekrutan, hingga penipuan siber di wilayah Rusia.
  • Pavel Durov dan Telegram belum memberikan tanggapan resmi, meski akun resmi Telegram di platform X mengunggah foto Durov usai kabar penetapan buronan beredar.

RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah Rusia melalui Dinas Keamanan Federal atau FSB memasukkan CEO Telegram, Pavel Durov, ke dalam daftar buronan internasional. Langkah tersebut diambil setelah otoritas Rusia melayangkan dakwaan terkait dugaan memfasilitasi aktivitas terorisme melalui platform Telegram.

FSB menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap Pavel Durov setelah dakwaan resmi diajukan, Rabu, 29 Juli 2026. Otoritas Rusia menilai dugaan pelanggaran tersebut berkaitan dengan pengelolaan konten dan aktivitas pengguna di Telegram.

Menurut pernyataan resmi FSB, Telegram diduga tidak menghapus sejumlah kanal, grup percakapan, dan bot yang dipermasalahkan. Saluran tersebut diklaim dimanfaatkan badan intelijen Ukraina serta kelompok yang disebut sebagai organisasi teroris dan ekstremis.

FSB menyatakan kanal dan grup tersebut diduga digunakan untuk merencanakan berbagai tindakan yang mengancam keamanan wilayah Rusia. Dugaan aktivitas itu mencakup sabotase, serangan teror, pembunuhan massal, hingga penipuan siber yang menyasar berbagai pihak.

Selain itu, FSB menuding Telegram menjadi sarana perekrutan warga Rusia untuk bergabung dalam aktivitas sabotase yang terorganisasi. Tuduhan tersebut menjadi salah satu dasar penyidik mengajukan proses hukum terhadap pendiri aplikasi pesan instan tersebut.

Hingga kini, Pavel Durov maupun pihak Telegram belum menyampaikan tanggapan resmi atas dakwaan yang diajukan otoritas Rusia tersebut. Belum diketahui pula langkah hukum yang akan ditempuh perusahaan untuk merespons proses penyelidikan yang sedang berjalan.

Tak lama setelah kabar penetapan buronan beredar luas, akun resmi Telegram di platform X mengunggah foto Pavel Durov. Unggahan tersebut memperlihatkan Durov mengacungkan jari tengah tanpa disertai penjelasan mengenai tuduhan yang diarahkan kepadanya.

Aksi itu langsung memicu beragam tanggapan dari pengguna media sosial dan menjadi perhatian publik di berbagai negara. Namun, unggahan tersebut tidak dapat dipastikan sebagai respons resmi perusahaan terhadap proses hukum yang sedang berlangsung.

Telegram didirikan Pavel Durov bersama saudaranya, Nikolai Durov, pada 2013 sebagai layanan pesan instan berbasis keamanan digital. Platform tersebut kini diklaim memiliki lebih dari satu miliar pengguna aktif yang tersebar di berbagai belahan dunia.

Kasus ini kembali menyoroti hubungan yang kerap memanas antara pemerintah Rusia dengan platform digital berskala global. Perkembangan penyelidikan masih terus berlangsung, sementara publik menantikan pernyataan resmi dari Pavel Durov maupun pihak Telegram.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....