Yarsi Bangun Laboratorium Terapi Sel Perkuat Riset Kesehatan Nasional

  • 28 Jul 2026 17:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Universitas Yarsi membangun laboratorium terapi sel dengan investasi hampir Rp40 miliar untuk mendukung pengembangan teknologi kesehatan regeneratif.
  • Fasilitas laboratorium akan menjadi pusat penelitian stem cell, sekretom, eksosom, dan precision medicine bagi para ilmuwan dan peneliti.
  • Pembangunan laboratorium ini merupakan bagian dari transformasi Universitas Yarsi menjadi pusat riset kesehatan terkemuka di Indonesia.

RRI.CO.ID, Jakarta – Universitas Yarsi membangun laboratorium terapi sel berteknologi tinggi senilai hampir Rp40 miliar. Fasilitas tersebut disiapkan untuk mengembangkan riset pengobatan regeneratif berbasis teknologi kesehatan.

Laboratorium itu akan mendukung penelitian stem cell, sekretom, eksosom, hingga precision medicine. Pengembangan fasilitas tersebut menjadi bagian dari transformasi Yarsi sebagai pusat riset kesehatan.

Pendiri Yayasan Yarsi, Prof. Jurnalis Uddin, mengatakan pengobatan masa depan akan semakin mengandalkan terapi berbasis sel. Menurutnya, pendekatan tersebut diharapkan mampu menjadi alternatif bagi berbagai penyakit kronis.

"Selama ini kita berobat dengan bahan kimia yang tidak selalu baik bagi manusia. Ke depan, kita memikirkan berobat dengan sel sehingga Yarsi membangun laboratorium untuk mengembangkan teknologi tersebut," kata Prof. Jurnalis usai penutupan Dies Natalis ke-59 Universitas Yarsi di Jakarta pada Selasa, 28 Juli 2026.

Prof. Jurnalis menjelaskan salah satu teknologi yang dikembangkan ialah rekayasa sel dewasa menjadi sel punca (stem cell). Teknologi tersebut memanfaatkan metode yang dikembangkan peraih Nobel asal Jepang, Shinya Yamanaka.

Selain stem cell, Yarsi juga mengembangkan terapi berbasis platelet-rich plasma (PRP). Penelitian turut diarahkan pada sekretom dan eksosom yang berpotensi menjadi bahan terapi berbagai penyakit.

Menurutnya, pembangunan laboratorium ditargetkan selesai pada akhir 2026. Operasional fasilitas tersebut akan mengikuti proses perizinan dari Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan sesuai ketentuan.

Ia mengatakan, Yarsi juga membangun ekosistem riset yang terhubung dengan industri kesehatan. Langkah itu diharapkan mempercepat hilirisasi hasil penelitian menjadi produk yang bermanfaat bagi masyarakat.

"Kalau industri tidak mau bekerja sama, kita bikin industri sendiri. Yarsi ingin menjadi produsen dan menawarkan hasilnya kepada rumah sakit di seluruh Indonesia," ucapnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Yarsi, Prof. Fasli Jalal, mengatakan laboratorium terapi sel menjadi bagian dari penguatan sains kesehatan berbasis teknologi mutakhir. Fasilitas tersebut juga mendukung pengembangan layanan kesehatan berbasis riset.

"Rahasia stem cell itu luar biasa. Ke depan mungkin orang tidak lagi bergantung pada obat, tetapi pada peremajaan sel-sel yang sakit," kata Prof. Fasli.

Menurutnya, laboratorium tersebut akan mendukung penerapan precision medicine. Pendekatan itu memungkinkan terapi disesuaikan dengan karakteristik biologis setiap pasien sehingga pengobatan menjadi lebih tepat sasaran.

"Karena penelitian dengan alat-alat canggih ini terus berkembang. Kita berharap dapat memberikan kontribusi nyata bagi kemaslahatan umat dan bangsa," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....