Universitas Yarsi Kembangkan AI Bantu Dokter di Ruang ICU

  • 26 Apr 2026 21:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Universitas YARSI mengembangkan inovasi berbasis kecerdasan buatan atau artifisial intelligence (AI) untuk membantu dokter di ruang ICU.
  • Program ini dirancang meningkatkan kecepatan dan akurasi penanganan pasien kritis.

RRI.CO.ID, Jakarta - Universitas YARSI mengembangkan inovasi berbasis kecerdasan buatan atau artifisial intelligence (AI) untuk membantu dokter di ruang ICU. Program ini dirancang meningkatkan kecepatan dan akurasi penanganan pasien kritis.

Rektor Universitas YARSI Prof. Fasli Jalal menyampaikan komitmen pengembangan teknologi tersebut. Program didukung hibah dari Korea, Jepang, serta sumber dalam negeri.

Ia menegaskan pengembangan kecerdasan buatan menjadi prioritas utama kampus. Teknologi ini diharapkan memperkuat sistem layanan kesehatan modern.

“Dalam artificial intelligence ini kami serius sekali. Pengembangannya melibatkan riset dan kolaborasi berbagai pihak,” kata Fasli usai acara wisuda Universitas Yarsi Tahun 2026 di Jakarta, Sabtu, 25 April 2026.

Program tersebut menjadi bagian proyek mahasiswa kedokteran di kampus. AI dirancang mengolah data medis seperti darah dan pernapasan pasien.

Hasil olahan data kemudian digunakan untuk memberikan rekomendasi kepada dokter. Sistem membantu menentukan pilihan obat yang sesuai kondisi pasien.

Meski demikian, keputusan akhir tetap berada di tangan dokter. Teknologi hanya berperan sebagai alat bantu analisis medis.

“Dokter tidak perlu lagi lama berdebat hingga berjam-jam. AI membantu mempercepat keputusan demi keselamatan pasien,” ujarnya.

Selain itu, AI juga digunakan untuk memperkuat proses diagnosis penyakit. Salah satu penerapannya mendeteksi kelainan genital pada bayi baru lahir.

Ia menjelaskan jumlah ahli urologi di Indonesia masih sangat terbatas. Kondisi ini membuat diagnosis dini belum merata di seluruh wilayah.

Data menunjukkan sebagian besar ahli berada di Pulau Jawa. Padahal, satu dari 300 bayi lahir dengan kelainan tersebut.

“Dengan artificial intelligence, akses diagnosis bisa diperluas secara signifikan. Anak-anak mendapat penanganan lebih cepat dan tepat,” ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....