Wamenkomdigi Dorong Diplomasi Chip dan Mineral Kritis Jadi Instrumen Geopolitik
- 11 Jul 2026 17:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Wamenkomdigi Nezar Patria mendorong diplomasi chip dan mineral kritis sebagai instrumen geopolitik digital untuk memperkuat daya saing Indonesia di tingkat global.
- Indonesia memiliki keunggulan strategis dalam sumber daya mineral kritis seperti cadangan baterai global dan produksi kobalt yang dibutuhkan teknologi modern.
- Pemerintah Indonesia perlu memanfaatkan mineral kritis untuk menegosiasikan akses lebih baik ke komputasi, transfer teknologi, dan kemitraan manufaktur agar tidak hanya menjadi konsumen teknologi.
- Kekuatan digital bukan hanya tentang teknologi, tetapi memerlukan kemauan politik dan strategi lintas pemerintahan untuk membangun institusi dan menentukan masa depan geopolitik Indonesia.
RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, mendorong diplomasi chip dan pemanfaatan mineral kritis menjadi instrumen geopolitik digital Indonesia. Menurutnya, hal itu menjadi penting, untuk memperkuat daya saing Indonesia di kancah global.
Terlebih, lanjut Nezar, saat ini persaingan global tengah gencar pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Untuk itu, Indonesia perlu memanfaatkan keungglan mineral kritis sebagai daya tawar bagi perkembangan teknologi digital global.
Selain itu juga untuk memperoleh akses komputasi, transfer teknologi, dan kemitraan manufaktur sekaligus memperkuat kapasitas nasional. "Kekuatan digital pada akhirnya bukan hanya tentang teknologi semata," kata Nezar dalam forum Geopolitical Forum, di Jakarta, dikutip Sabtu, 11 Juli 2026.
"Namun ini tentang kemauan politik, kemauan untuk mempertahankan strategi lintas pemerintahan, untuk membangun institusi secara bertahap. Sekaligus memutuskan masa depan geopolitik baru Indonesia," ujarnya.
Menurutnya, Indonesia memiliki keunggulan starategis dalam diplomasi chip dan pemanfaatan mineral kritis. Bahkan, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya mineral kritis yang dibutuhkan produk-produk teknologi modern.
Ia mencontohkan, sejumlah kekayaan alam Indonesia seperti cadangan keutuhan pasok baterai global dan produksi kobalt. Dengan berbagai peluang emas ini, Nezar meyakini Indonesia dapat menjadi pemain kunci dalam pertumbuhan ekosistem dan industri digital Indonesia.
"Indonesia perlu menggunakan mineral kritis untuk menegosiasikan akses yang lebih baik ke komputasi, transfer teknologi, dan kemitraan manufaktur. Kekayaan mineral ini merupakan keunggulan strategis Indonesia jadi bukan sekadar menjadi konsumen teknologi dan pemain kunci dalam ekosistem AI global," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....