BRIN Perkuat Riset Oseanografi untuk Mendukung Mitigasi Bencana Pesisir
- 03 Jul 2026 21:08 WIB
- Pusat Pemberitaan
Penguatan riset oseanografi menjadi salah satu kunci dalam meningkatkan kemampuan Indonesia memahami dinamika laut sekaligus memperkuat mitigasi bencana di wilayah pesisir. Pemahaman mengenai sirkulasi arus laut, interaksi massa air, hingga potensi bahaya tsunami diperlukan sebagai dasar penyusunan kebijakan pengelolaan wilayah pesisir yang berbasis sains serta mendukung pembangunan ekonomi biru yang berkelanjutan.
Kepala Pusat Riset Oseanologi BRIN, M. Furqon Azis Ismail, mengatakan Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki dinamika laut yang sangat kompleks sekaligus menghadapi berbagai ancaman bencana pesisir, termasuk tsunami. Karena itu, riset oseanografi memiliki peran strategis dalam menghasilkan pengetahuan ilmiah yang mendukung pengelolaan laut, mitigasi bencana, dan pembangunan berkelanjutan.
Saat membuka Oceanology Talk Series (OTS) #6 bertema Exploring Ocean Dynamics and Coastal Hazards pada Rabu (1/7), Furqon menjelaskan bahwa perkembangan riset oseanografi perlu terus didorong melalui kolaborasi antarlembaga, akademisi, dan pemangku kepentingan agar mampu menjawab tantangan sebagai negara maritim.
"Paparan mengenai dinamika Arus Lintas Indonesia maupun pendekatan probabilistik dalam penilaian bahaya tsunami menunjukkan bahwa riset oseanografi dan kebencanaan terus berkembang untuk mendukung pengambilan kebijakan berbasis sains," ujarnya.
Menurut Furqon, BRIN berharap kolaborasi dan inovasi di bidang oseanologi, khususnya dalam mitigasi bencana tsunami di kawasan pesisir, semakin berkembang melalui diseminasi hasil-hasil penelitian.
Salah satu riset yang dipaparkan berasal dari Peneliti Pusat Riset Oseanologi BRIN, Fuad Azminuddin, yang mengungkapkan bahwa pusaran arus laut berskala menengah (mesoscale eddies) berperan penting dalam mengendalikan dinamika Arus Lintas Indonesia (Indonesian Throughflow/ITF) di Laut Sulawesi.
Dalam paparannya pada OTS #6, Fuad menjelaskan bahwa penelitian menggunakan model sirkulasi laut beresolusi tinggi dengan data harian periode 1993–2020. Hasil validasi menunjukkan model mampu merepresentasikan pola arus di kawasan Pasifik Barat dan Laut Sulawesi dengan tingkat kesesuaian yang baik terhadap data observasi.
Penelitian tersebut mengidentifikasi tiga pusaran arus utama yang bersifat persisten secara klimatologis di Laut Sulawesi, yakni satu anticyclonic eddy di bagian utara dan dua cyclonic eddies di bagian selatan. Ketiganya memiliki karakteristik berbeda dari sisi intensitas, ukuran, maupun kedalaman sehingga memberikan pengaruh yang berbeda terhadap sirkulasi massa air.
Hasil analisis menunjukkan bahwa penguatan cyclonic eddies menyebabkan aliran ITF menuju Selat Makassar melemah karena sebagian massa air dialihkan ke Laut Maluku Utara. Sebaliknya, penguatan anticyclonic eddy berkaitan dengan meningkatnya transport ITF dari Samudra Pasifik menuju perairan Indonesia.
Fuad menjelaskan bahwa variasi musiman ITF tidak hanya dipengaruhi perubahan angin dan perbedaan tekanan di Samudra Pasifik, tetapi juga oleh dinamika mesoscale eddies di Laut Sulawesi.
"Temuan ini memperkuat pemahaman bahwa mesoscale eddies merupakan faktor penting yang perlu diperhitungkan dalam mempelajari variabilitas Arus Lintas Indonesia," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pusaran arus tersebut juga berpotensi meningkatkan produktivitas primer melalui proses upwelling yang membawa nutrien dari lapisan laut dalam ke permukaan. Temuan tersebut membuka peluang penelitian lanjutan mengenai kaitannya dengan produktivitas perairan dan potensi daerah penangkapan ikan di Laut Sulawesi, khususnya di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 716.
Sementara itu, mahasiswa doktoral Tohoku University, Iqbal Ardiansyah, memperkenalkan pendekatan Time-dependent Probabilistic Tsunami Hazard Assessment (TD-PTHA) untuk meningkatkan akurasi penilaian bahaya tsunami di Indonesia. Paparan tersebut disampaikan dalam OTS #6 yang diselenggarakan Pusat Riset Oseanologi BRIN.
Iqbal menjelaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat risiko bencana tertinggi di dunia karena berada di pertemuan tiga lempeng tektonik utama serta dipengaruhi berbagai fenomena iklim. Kondisi tersebut menyebabkan Indonesia rentan terhadap gempa bumi dan tsunami.
Menurutnya, tsunami merupakan bencana yang relatif jarang terjadi, tetapi memiliki dampak yang sangat besar. Sekitar 80% tsunami dipicu oleh gempa bumi, sedangkan sisanya disebabkan oleh longsoran bawah laut, letusan gunung api, maupun hantaman meteor.
Dalam risetnya, Iqbal mengembangkan metode TD-PTHA yang mempertimbangkan sejarah kejadian dan siklus perulangan gempa, berbeda dengan pendekatan konvensional yang mengasumsikan gempa terjadi secara acak. Pendekatan ini memanfaatkan data historis untuk menghasilkan estimasi probabilitas bahaya tsunami yang lebih realistis.
Sebagai studi kasus, penelitian dilakukan pada Segmen Aceh-Andaman menggunakan data sejarah gempa besar selama ribuan tahun. Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat bahaya tsunami meningkat seiring mendekati periode ulang gempa besar sehingga pendekatan berbasis waktu mampu menghasilkan estimasi risiko yang lebih akurat dibandingkan metode konvensional.
Iqbal menambahkan bahwa hasil penilaian bahaya tsunami tersebut dapat dimanfaatkan sebagai dasar perencanaan infrastruktur, penyusunan tata ruang kawasan pesisir, serta penguatan sistem mitigasi dan evakuasi bencana di Indonesia. (ans/ed. mfs)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....