Riset Industri Animasi Indonesia, Petakan Peluang Ekonomi Kreatif Berbasis KI

  • 27 Mei 2026 15:56 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan komitmennya dalam mendukung kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy). Salah satu langkah strategis dilakukan melalui riset kolaboratif untuk memperkuat industri kreatif nasional yang kini mengalami pertumbuhan signifikan sekaligus bertransformasi menuju ekonomi berbasis kekayaan intelektual (Intellectual Property/IP).

“Laporan ini merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Ekonomi Kreatif, Asosiasi Industri Animasi Indonesia (AINAKI), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Universitas Dian Nuswantoro, dan menjadi kelanjutan dari studi riset sebelumnya (2015–2020),” ungkap Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya dalam Conference & Peluncuran Buku Animation Report 2026: Strategi Promosi & Transformasi Industri Animasi Indonesia yang diselenggarakan Asosiasi Industri Animasi Indonesia (AINAKI) di ARTOTEL Thamrin, Jakarta, 19 Mei 2026.

Menurutnya, hasil riset mencatat bahwa untuk pertama kalinya pendapatan dari karya animasi orisinal melampaui pendapatan jasa animasi ekspor. Pada 2025, pendapatan IP animasi nasional meningkat hingga 279,53%, dengan 308 karya animasi orisinal aktif telah diproduksi dan didistribusikan di berbagai platform global.

“Berdasarkan riset terhadap 262 studio animasi dengan 3.448 tenaga kerja, nilai industri animasi Indonesia tercatat mencapai Rp798,15 miliar pada 2025 atau meningkat lebih dari 3,3 kali lipat dalam 10 tahun terakhir dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 12,86% per tahun,” katanya saat memberikan sambutan dalam acara peluncuran Indonesia Animation Report 2026.

Industri animasi merupakan bagian penting dari ekonomi kreatif yang memiliki potensi besar sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru. Ia menegaskan pentingnya laporan tersebut sebagai dasar penyusunan kebijakan berbasis data dalam pengembangan industri animasi nasional.

“Laporan ini menjadi landasan penting untuk mendorong transformasi industri menuju model berbasis kekayaan intelektual yang berdaya saing global,” ujarnya

Pergeseran Arah: Dari Penyedia Jasa Menjadi Pemilik Mimpi

Di kesempatan yang sama, Kepala Pusat Riset Masyarakat dan Budaya (PRMB) BRIN, Aulia Hadi mengatakan laporan tersebut menjadi penanda penting perubahan arah industri animasi nasional, dari sekadar penyedia jasa menjadi pencipta dan pemilik kekayaan intelektual.

“Indonesia Animation Report 2026 mencatat besarnya potensi animasi sebagai bagian dari industri kreatif Indonesia. Kreator animasi Indonesia tidak kekurangan imajinasi. Tantangannya adalah ekosistem yang belum sepenuhnya percaya pada nilai dari imajinasi itu sendiri,” ujar Aulia.

Menurutnya, pergeseran menuju kepemilikan IP orisinal menunjukkan transformasi yang lebih mendasar dibanding sekadar perubahan model bisnis industri.

“Fenomena ini menunjukkan pergeseran arah: dari bangsa yang selama ini mengerjakan mimpi orang lain menuju bangsa yang berani membangun dan memiliki mimpinya sendiri,” ia menjelaskan.

Aulia menilai momentum tersebut menempatkan Indonesia di ambang era emas animasi nasional. Ke depan, animasi Indonesia tidak hanya diharapkan menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tetapi juga mampu menjadi salah satu barometer industri animasi global.

Sebagai lembaga riset nasional, Aulia menegaskan bahwa BRIN berkomitmen mendukung kebijakan berbasis bukti untuk industri animasi melalui penguatan riset kajian maupun terapan di bidang seni dan desain.

“Pusat Riset Masyarakat dan Budaya BRIN berkomitmen untuk terus mendampingi perkembangan industri ini melalui dukungan riset kajian dan terapan di bidang seni dan desain. Dengan demikian, kekayaan budaya Indonesia, seperti fabel dan folklor Nusantara, dapat ditransformasikan menjadi aset digital bernilai tinggi dan berdaya saing di panggung dunia,” ia menambahkan.

Pemetaan Ekosistem Animasi Nasional secara Berkelanjutan

Kontribusi BRIN dalam pengembangan industri animasi nasional juga tercermin dari kesinambungan riset yang dilakukan Kelompok Riset Seni Desain Intermedia, Pusat Riset Masyarakat dan Budaya (PRMB) BRIN. Koordinator Kelompok Riset Seni Desain Intermedia PRMB BRIN, Andrian Wikayanto menjelaskan bahwa Indonesia Animation Report 2026 merupakan bagian dari agenda riset jangka panjang BRIN dalam membangun basis data ilmiah industri kreatif nasional.

“Indonesia Animation Report 2026 merupakan cerminan dari komitmen jangka panjang Kelompok Riset Seni Desain Intermedia PRMB BRIN dalam menghasilkan basis data ilmiah yang relevan bagi pengembangan industri kreatif nasional,” kata Andrian.

Ia menjelaskan perjalanan riset tersebut dimulai sejak penerbitan Indonesia Animation Report 2020 sebagai peta awal ekosistem animasi nasional. Riset kemudian berlanjut melalui pemetaan sumber daya manusia animasi pada 2024, hingga kajian dampak kecerdasan buatan terhadap pendidikan animasi di Indonesia pada 2025.

“Laporan 2026 ini adalah kelanjutan organis dari seluruh rangkaian riset tersebut — sebuah upaya kolektif untuk memotret industri animasi Indonesia secara komprehensif dan berbasis data,” ujarnya.

Menurut Andrian, BRIN memandang industri animasi bukan sebagai sektor yang berdiri sendiri, melainkan bagian penting dari rantai industri kreatif nasional yang lebih luas, mulai dari industri gim, efek visual (visual effects/VFX) dalam produksi film, komik dan novel grafis, hingga konten digital interaktif.

Andrian menyakini ketika animasi tumbuh kuat, seluruh rantai nilai industri kreatif Indonesia ikut menguat. Itulah mengapa riset berbasis data seperti ini menjadi sangat strategis.

“Kebijakan yang baik hanya bisa lahir dari pemahaman yang akurat terhadap kondisi lapangan yang sesungguhnya,” ia menegaskan.

Hasil riset ini menurutnya memperkuat temuan-temuan sebelumnya. “Kita tengah berdiri di pintu gerbang era emas animasi Indonesia,” ucap Andrian menyakini.

Menurutnya, meningkatnya kapasitas teknis, pertumbuhan studio animasi, dan semakin luasnya jaringan kolaborasi internasional memperlihatkan sinyal kuat yang tidak bisa diabaikan

“Di masa mendatang, kami meyakini bahwa animasi Indonesia tidak hanya akan menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tetapi juga mampu tampil sebagai salah satu barometer industri animasi di tingkat global,” kata Andrian. (mfs)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....