Kisah Rayyan Shahab Raih 15 Kampus Top Dunia di Usia 17 Tahun
- 04 Apr 2026 21:25 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kisah Rayyan Shahab Raih 15 Kampus Top Dunia di Usia 17 Tahun
- Rayyan Shahab Raih 15 Kampus Top Dunia
RRI.CO.ID, Pekalongan - Di usia 17 tahun, Ahmad Ali Rayyan Shahab berhasil menembus 15 kampus top dunia tanpa mengikuti kursus bahasa Inggris. Siswa MAN Insan Cendekia Pekalongan ini menerima 15 Letter of Acceptance (LoA) dari berbagai universitas ternama di enam negara.
Negara tujuan tersebut meliputi Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Belanda, Selandia Baru, dan Australia. Sejumlah kampus yang menerima Rayyan antara lain University of California San Diego (UCSD), University of Toronto, University of British Columbia.
Ada McGill University, Wageningen University & Research, University of Manchester, hingga University of Auckland. Dengan jurusan yang didominasi bidang ilmu dan teknik lingkungan.
Keberhasilan ini tidak diraih secara instan. Rayyan mengaku sejak kecil telah ditanamkan semangat “go global” oleh kedua orang tuanya. Ia terbiasa mengenal dunia internasional melalui buku, televisi, dan internet.
“Sejak kecil saya dimotivasi orang tua untuk mengenal dunia luar. Dari situ muncul keinginan untuk bisa meraih pendidikan di tingkat global,” ujarnya.
Dorongan tersebut membuat Rayyan belajar bahasa Inggris secara otodidak tanpa kursus formal. Ia mengasah kemampuan melalui sekolah, membaca, menonton, mendengarkan musik, serta aktif berkomunikasi dalam bahasa Inggris.

Pengalaman internasionalnya semakin terasah saat mengikuti program pertukaran pelajar AFS Intercultural Programs ke Finlandia selama 10 bulan. Di sana, ia belajar di sekolah bertaraf internasional sekaligus mendalami berbagai isu lingkungan.
“Di Finlandia saya belajar banyak hal. Termasuk sistem pendidikan dan isu lingkungan seperti pengelolaan sampah dan air,” kata Rayyan.
Sekembalinya ke Indonesia, ia mulai mempersiapkan diri secara serius untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Ia mengikuti tes IELTS dan SAT, aktif mencari informasi kampus, serta rutin berlatih menulis motivation letter.
Menurut Rayyan, kampus luar negeri tidak hanya menilai kemampuan akademik dan bahasa Inggris. Tetapi juga kontribusi nyata, ide, serta kemampuan bekerja sama.
Di luar akademik, ia aktif di berbagai organisasi, termasuk komunitas lingkungan seperti Green Generation dan Greenfaith. Di sekolah, ia juga menjadi salah satu pendiri organisasi lingkungan Atma Bawana yang fokus pada pengelolaan sampah di lingkungan asrama.
Selain itu, Rayyan aktif menulis dan memiliki blog pribadi bertema lingkungan. Ia bahkan pernah tampil dalam forum ilmiah internasional di Jakarta.
Ia juga menekankan pentingnya doa dalam setiap usaha yang dilakukan. “Orang tua selalu mengingatkan untuk berdoa,” ujarnya.
"Saya juga meminta doa dari keluarga besar agar dimudahkan meraih cita-cita." Rayyan membagikan sejumlah kunci keberhasilannya.
Kunci tersebut berupa memiliki mimpi yang kuat, kemampuan bahasa Inggris yang baik. Selain itu konsistensi pada bidang yang diminati, aktif berkegiatan dan berkontribusi, serta kemampuan menulis.
Saat ini, Rayyan tengah mengajukan beasiswa LPDP Garuda untuk menentukan pilihan dari 15 kampus yang telah menerimanya. Ia berharap dapat melanjutkan studi di salah satu universitas terbaik dunia.
Ia juga berharap kembali berkontribusi bagi Indonesia. Bagi Rayyan, mimpi bukan untuk ditunggu, melainkan untuk dikejar sejak dini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....