Apa Itu Gempa Megathrust? Simak Penjelasan dan Ciri-Cirinya

  • 02 Apr 2026 14:18 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Gempa megathrust terjadi saat lempeng samudera tersubduksi ke dalam lempeng benua.
  • Ciri utama gempa megathrust yakni kekuatannya yang bisa mencapai di atas magnitudo 7,0.
  • Indonesia memiliki banyak zona megathrust yang mengakibatkan rawan gempa.

RRI.CO.ID, Jakarta - Gempa megathrust adalah jenis gempa besar yang terjadi di zona subduksi antar lempeng tektonik. Zona megathrust umumnya berada di pertemuan lempeng samudra dan lempeng benua.

Melansir Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa megathrust terjadi ketika lempeng tektonik yang lebih padat (biasanya lempeng samudera) menyusup ke bawah lempeng yang lebih ringan (biasanya lempeng benua). Fenomena ini dikenal sebagai pemicu gempa paling kuat hingga bisa berpotensi tsunami.

Ciri utama gempa megathrust yakni bermagnitudo besar, biasanya di atas 7,0 bahkan bisa menyentuh 9,0 skala Richter. Selain itu, pusat gempa umumnya berada di kedalaman dangkal hingga menengah.

Durasi guncangan gempa megathrust juga biasanya lebih lama. Gempa megathrust bisa berlangsung selama beberapa menit dibanding gempa biasa yang hanya beberapa detik hingga satu menit saja.

Salah satu gejala paling jelas adalah air laut di garis pantai yang tiba-tiba surut secara signifikan. Getaran gempa megathrust menyebabkan gerakan vertikal yang besar di dasar laut dan memindahkan sejumlah besar air menjauh dari daratan dan memicu gelombang tsunami.

Indonesia memiliki banyak zona ini karena berada di pertemuan tiga lempeng besar dunia. Letak geografisnya berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire), tempat bertemunya beberapa lempeng tektonik aktif yang terus bergerak dan berinteraksi.

Zona subduksi di sepanjang Samudra Hindia dan Pasifik sering menjadi sumber gempa megathrust besar. Wilayah pesisir Indonesia, terutama Sumatra, Jawa, dan Nusa Tenggara, sangat dekat dengan zona ini, sehingga rentan terhadap dampak langsung gempa dan tsunami.

Menurut United States Geological Survey, contoh gempa megathrust paling merusak sepanjang sejarah adalah gempa dan tsunami Aceh 2004. Magnitudonya mencapai 9,1 dan dampak kerugiannya tercatat begitu besar baik dari jumlah korban jiwa maupun kerugian secara material.

Untuk mengantisipasi potensi gempa megathrust, BMKG telah meningkatkan sistem peringatan dini dengan memasang sensor muka laut, sensor cuaca, dan sirene tsunami. Meski kapan terjadinya gempa ini tidak bisa diprediksi, kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci utama untuk mengurangi korban jiwa.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....