Dekati Korona Matahari, Parker Solar Probe Kembali Pecahkan Rekor

  • 18 Mar 2026 20:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Parker Solar Probe kembali mendekat hingga 6,2 juta km dari Matahari dalam lintasan ke-27.
  • Wahana berhasil menembus korona Matahari saat periode Solar Maximum dengan sistem tetap normal.
  • Data yang dikumpulkan Parker Solar Probe diharapkan bantu pahami aktivitas Matahari dan dampaknya bagi Bumi.

RRI.CO.ID, Maryland - Wahana antariksa kebanggaan NASA, Parker Solar Probe, berhasil menyelesaikan lintasan dekat (close approach) ke-27 terhadap Matahari. Wahana tersebut kembali menyamai rekor jarak terdekatnya, yakni hanya 6,2 juta kilometer dari permukaan sang surya.

Keberhasilan ini dikonfirmasi setelah tim Johns Hopkins Applied Physics Laboratory (APL) menerima sinyal ‘beacon’ pada 14 Maret lalu. Seluruh sistem wahana dinyatakan beroperasi normal meskipun baru saja melewati lingkungan dengan radiasi dan panas ekstrem.

Selama fase perjumpaan yang berlangsung dari 6 hingga 16 Maret, Parker Solar Probe terbang menembus korona Matahari. Misi kali ini menjadi sangat krusial, dikarenakan Matahari berada dalam periode Solar Maximum.

Periode ini merupakan puncak siklus aktivitas 11 tahunan. Di mana bintik matahari dan badai surya lebih sering terjadi.

Instrumen di dalam wahana bertugas mengumpulkan data penting mengenai angin surya serta peristiwa pelepasan massa korona. Data ini diharapkan dapat membantu memahami bagaimana atmosfer Matahari memanas dan fenomena cuaca antariksa memengaruhi infrastruktur di Bumi.

Selain rekor jarak, wahana ini juga mempertahankan kecepatannya yang mencapai 687 ribu kilometer per jam. Sebagai gambaran, dengan kecepatan ini, sebuah objek dapat menempuh Jakarta ke New York kurang dari dua menit.

NASA menegaskan, memahami fisika dasar cuaca antariksa memungkinkan prediksi yang lebih andal. Terutama untuk keselamatan astronaut misi Artemis, maupun misi berawak ke Mars.

Parker Solar Probe dijadwalkan untuk mulai mengirimkan data telemetri dan hasil pengamatan sainsnya ke Bumi mulai pertengahan Maret. Misi sejak 2018 ini akan terus mengorbit dan memantau Matahari hingga fase penurunan aktivitas surya di tahun-tahun mendatang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....