NASA Ungkap Debu Sahara Sapu Eropa, Picu Fenomena 'Hujan Kotor' di Sejumlah Negara
- 12 Mar 2026 14:22 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Eropa – NASA melaporkan angin musim dingin mengangkat awan debu dari Gurun Sahara. Awan debu tersebut melintasi Laut Mediterania hingga menyebar luas ke berbagai wilayah Eropa pada Maret 2026.
Kemudian, debu ini bercampur dengan sistem cuaca yang sarat uap air. Hal ini memicu fenomena hujan kotor di beberapa wilayah Spanyol, Prancis, dan Inggris.
Sebuah animasi yang diunggah NASA pada laman resminya memperlihatkan pergerakan serta konsentrasi debu di kawasan tersebut. Video tersebut menampilkan periode 1 hingga 9 Maret 2026.
Visualisasi ini menunjukkan kepadatan massa kolom debu, yaitu ukuran jumlah debu yang terkandung dalam kolom udara. Data tersebut dihasilkan menggunakan model GEOS (Goddard Earth Observing System).
Dalam animasi tersebut, terlihat kepulan debu berasal dari Afrika barat laut. Kemudian, debu tertiup ke arah barat melintasi Samudra Atlantik dan ke utara menuju kawasan Mediterania.
Selama beberapa hari, debu menyebar ke seluruh Eropa Barat, menyebabkan langit tampak berkabut. Fenomena teramati dari Inggris Selatan hingga Pegunungan Alpen di Swiss dan Italia, ketika debu mencapai sekitar Gunung Matterhorn.
Tidak semua debu tetap melayang di udara. Sebagian partikel bertemu dengan badai dan kemudian jatuh ke permukaan bersama hujan, meninggalkan lapisan residu berwarna kecokelatan.
Sistem tekanan rendah yang dinamai Badai Regina oleh layanan cuaca Portugal melintasi Semenanjung Iberia. Ini memicu fenomena blood rain di Spanyol selatan dan timur, serta sebagian Prancis dan Inggris selatan.
Di atas kawasan Mediterania, terbentuk pula area awan cirrus yang sarat debu di lapisan atmosfer yang lebih tinggi. Menurut MeteoSwiss, debu dapat berperan sebagai inti kondensasi bagi kristal es dalam awan tersebut.
Analisis terbaru juga meneliti dampak debu Sahara terhadap pembangkit listrik tenaga surya di Hungaria. Penelitian ini memanfaatkan data MERRA-2 NASA, pengamatan MODIS, dan berbagai produk satelit lainnya.
Hasilnya menunjukkan kinerja panel fotovoltaik dapat turun hingga sekitar 46 persen pada hari dengan konsentrasi debu tinggi. Sebaliknya, pada hari dengan kadar debu rendah, kinerjanya dapat mencapai 75 persen atau lebih.
Penurunan ini terutama disebabkan oleh meningkatnya keberadaan awan cirrus yang memantulkan radiasi Matahari. Hal ini mengurangi jumlah energi yang mencapai panel surya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....