Tanah Arktik Tak Langsung Membeku, NASA Ungkap Alasannya
- 25 Agt 2026 14:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- NASA memetakan fenomena zero curtain yang membuat tanah Arktik bertahan di sekitar titik beku.
- Kondisi tersebut dapat memperpanjang aktivitas mikroorganisme dan meningkatkan pelepasan karbon dioksida serta metana.
- GeoCryoAI menggabungkan data satelit dan pengukuran lapangan untuk memetakan perubahan tanah beku Arktik.
RRI.CO.ID, Jakarta - NASA memimpin penelitian baru untuk memetakan fenomena zero curtain di kawasan Arktik. Fenomena ini terjadi ketika tanah berada di sekitar titik beku selama berhari-hari hingga berminggu-minggu saat pergantian musim.
Mengutip laman resminya, Selasa, 25 Agustus 2026, air yang membeku melepaskan panas pada musim gugur. Hal ini membuat suhu tanah tetap mendekati titik beku sebelum akhirnya mendingin lebih jauh.
Kondisi serupa juga terjadi pada musim semi ketika panas yang masuk digunakan untuk mencairkan es di dalam tanah. Kondisi tanah yang lembap dan mendekati titik beku memungkinkan mikroorganisme tetap aktif lebih lama.
Aktivitas mikroorganisme tersebut dapat melepaskan karbon dioksida dan metana ke atmosfer. Permafrost Arktik diperkirakan menyimpan sekitar 1,9 triliun ton karbon organik.
Angka ini hampir dua kali lipat jumlah karbon yang saat ini berada di atmosfer Bumi. Ketika tanah beku mencair, lebih banyak karbon berpotensi dilepaskan akibat meningkatnya aktivitas mikroorganisme.
Dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal Scientific Reports, para peneliti memperkenalkan kerangka kecerdasan buatan bernama GeoCryoAI. Sistem tersebut menggabungkan pengamatan satelit, keluaran model, serta pengukuran lapangan yang telah dikumpulkan sejak 1891.
Adapun, GeoCryoAI menghasilkan peta terperinci mengenai kondisi zero curtain di kawasan Arktik. Hasil pemetaan menunjukkan periode zero curtain pada musim semi umumnya berlangsung lebih lama dibandingkan saat pembekuan pada musim gugur.
Wilayah dengan tingkat kelembapan lebih tinggi juga cenderung mengalami periode zero curtain yang lebih panjang. Temuan ini membantu ilmuwan memahami perubahan kondisi tanah beku di kawasan Arktik.
Teknologi tersebut dirancang untuk memanfaatkan data dari misi NISAR, kerja sama NASA dan ISRO. Data tersebut dapat digunakan untuk memantau perubahan lanskap beku akibat perubahan iklim.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....